Umroh Plus Al Ula bersama Payung Madinah: Gambaran Perjalanan dan Adab Berkunjung ke Situs Bersejarah

Umroh Plus Al Ula bersama Payung Madinah: Gambaran Perjalanan dan Adab Berkunjung ke Situs Bersejarah

Umroh plus Al Ula adalah salah satu bentuk perjalanan yang makin sering ditanyakan calon jemaah Indonesia. Program ini menggabungkan rangkaian ibadah umroh di Makkah dan Madinah dengan kunjungan ke kawasan Al Ula, daerah bergurun di wilayah Madinah, Arab Saudi, yang dikenal karena lanskap batuan pasirnya dan peninggalan permukiman kuno yang dipahat pada dinding batu. Bagi sebagian jemaah, tambahan ini terasa menarik karena memberi kesempatan melihat sisi Jazirah Arab yang jarang dijangkau rombongan umroh. Bagi sebagian yang lain, justru muncul pertanyaan apakah tambahan perjalanan seperti ini tidak mengurangi kekhusyukan ibadah. Pertanyaan itu wajar, dan jawabannya bergantung pada cara program disusun serta niat yang dibawa jemaah sejak awal. Umroh Plus Al Ula tercatat sebagai salah satu program Payung Madinah Umroh & Haji Official, dan tulisan ini menjelaskan gambaran umumnya tanpa menyentuh angka biaya maupun jadwal keberangkatan.

Apa yang Sebenarnya Ditambahkan oleh Program Umroh Plus Al Ula

Perlu dipahami lebih dulu bahwa istilah "plus" pada program umroh tidak mengubah hakikat ibadahnya. Rangkaian umroh tetap sama: ihram dari miqat, thawaf, sa'i, dan tahallul, lengkap dengan ziarah di Madinah. Yang ditambahkan adalah satu segmen perjalanan di luar dua kota suci, dalam hal ini kawasan Al Ula, yang biasanya ditempatkan sebelum atau sesudah rangkaian inti selesai dikerjakan. Dengan kata lain, jemaah tidak sedang menukar sebagian ibadah dengan wisata, melainkan menambah hari perjalanan.

Kawasan Al Ula sendiri berada di wilayah Madinah dan dalam beberapa tahun terakhir dikembangkan Arab Saudi sebagai kawasan kunjungan yang dikelola resmi, dengan jalur masuk, pemandu, dan pengaturan waktu tertentu. Artinya kunjungan ke sana bukan perjalanan bebas, melainkan mengikuti pengaturan pengelola kawasan. Hal ini penting diketahui karena berpengaruh pada jam kunjungan dan durasi di lokasi, yang tidak bisa diubah sesuka rombongan.

Karena itu pula, program plus Al Ula umumnya menuntut hari perjalanan yang lebih panjang dibandingkan paket umroh tanpa tambahan. Jemaah yang punya keterbatasan waktu cuti atau sedang menyesuaikan jadwal keluarga sebaiknya mempertimbangkan hal ini sejak awal, bukan setelah pendaftaran berjalan.

Rangkaian Ibadah Tetap Menjadi Inti, Bukan Pelengkap

Prinsip yang dipegang pada setiap program plus adalah ibadah lebih dulu, tambahan kemudian. Dalam praktiknya, ini berarti waktu untuk thawaf, sa'i, sholat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, serta ziarah tetap mendapat porsi utama dalam itinerary. Segmen Al Ula ditempatkan agar tidak memotong waktu-waktu tersebut, terutama bukan pada hari ketika rangkaian umroh sedang dikerjakan.

Jemaah dapat memastikan hal ini dengan satu cara sederhana: membaca itinerary hari demi hari dan menghitung sendiri berapa hari penuh yang tersisa untuk beribadah di Makkah dan Madinah. Angka itulah yang paling jujur menggambarkan seberapa besar ruang ibadah dalam sebuah paket. Pembimbing ibadah dan tour leader yang mendampingi rombongan juga dapat menjelaskan urutannya sejak sebelum keberangkatan, sehingga tidak ada kejutan di tengah perjalanan.

Sebagian jemaah memilih menggunakan hari tambahan di luar kota suci justru untuk memulihkan tenaga setelah rangkaian ibadah yang padat. Cara pandang ini tidak keliru, selama tenaga terbaik tetap disimpan untuk ibadah, bukan untuk perjalanan tambahan.

Adab dan Niat saat Berkunjung ke Peninggalan Umat Terdahulu

Ada satu hal yang sering terlewat dibicarakan dalam promosi perjalanan: kawasan Al Ula berkaitan dengan kisah kaum Tsamud, umat yang disebutkan dalam Al-Qur'an sebagai kaum yang pernah ditimpa azab karena mendustakan nabi yang diutus kepada mereka. Peninggalan pahatan batu di kawasan itu adalah jejak peradaban yang kemudian binasa.

Karena itu, menurut sebagian ulama, kunjungan ke situs peninggalan umat yang pernah ditimpa azab sebaiknya dijalani dengan sikap mengambil pelajaran, bukan sekadar rekreasi dan berfoto. Dianjurkan agar jemaah datang dengan hati yang merenung, mengingat bahwa kekuatan dan kemegahan sebuah kaum tidak menjamin apa pun di hadapan Allah. Sebagian ulama bahkan berpendapat lebih berhati-hati lagi dan menganjurkan agar kunjungan ke tempat semacam itu tidak dijadikan tujuan wisata. Perbedaan pandangan ini termasuk masalah yang diperbincangkan, dan jemaah berhak memilih sikap yang ia yakini.

Dalam praktiknya, jemaah yang merasa tidak nyaman mengunjungi kawasan tersebut dapat menyampaikannya kepada tim sejak masa pendaftaran, bukan pada hari kunjungan. Menyampaikan lebih awal memberi ruang untuk mengatur pilihan yang paling tenang bagi jemaah. Sikap saling menghormati antarsesama jemaah dalam satu rombongan juga bagian dari adab perjalanan ini.

Kesiapan Fisik dan Perbekalan untuk Perjalanan Darat di Kawasan Gurun

Berbeda dengan kota suci yang sebagian besar aktivitasnya berlangsung di sekitar masjid dan hotel, segmen Al Ula melibatkan perjalanan darat dan berjalan di area terbuka dengan paparan matahari dan angin gurun. Jemaah yang kurang siap secara fisik bisa kehabisan tenaga, dan dampaknya terasa pada hari-hari ibadah berikutnya. Karena itu kesiapan tubuh sama pentingnya dengan kesiapan niat.

Beberapa hal sederhana membantu menjaga kondisi selama segmen ini:

  • Alas kaki tertutup dan nyaman dipakai berjalan di permukaan berbatu dan berpasir
  • Pelindung kepala atau penutup wajah untuk menahan terik dan debu
  • Air minum yang cukup serta kebiasaan minum sebelum terasa haus
  • Obat pribadi yang dibawa dalam tas kecil, bukan ditinggal di koper besar
  • Pakaian berlapis untuk mengantisipasi suhu yang dapat turun cukup terasa pada malam hari

Jemaah lanjut usia atau yang memiliki keterbatasan mobilitas sebaiknya berbicara dengan tim lebih dulu mengenai beban fisik segmen ini. Keputusan untuk mengikuti sebagian saja dari kegiatan tambahan adalah pilihan yang wajar dan tidak perlu dirasakan sebagai kekurangan.

Hal yang Perlu Dipastikan Jemaah Sebelum Memilih Program Ini

Agar harapan dan kenyataan tidak berjarak, ada beberapa hal yang sebaiknya dipastikan sejak awal, langsung kepada tim resmi dan bukan dari kabar yang beredar di grup pesan:

  1. Jumlah hari penuh yang tersedia untuk ibadah di Makkah dan Madinah, dihitung dari itinerary
  2. Posisi segmen Al Ula dalam urutan hari, sebelum atau sesudah rangkaian umroh selesai
  3. Siapa yang mendampingi rombongan pada segmen tambahan tersebut
  4. Apakah kegiatan tambahan bersifat wajib diikuti seluruh rombongan atau dapat dipilih
  5. Pengaturan transportasi darat dan perkiraan lama perjalanan antartitik

Jawaban atas pertanyaan itu sebaiknya diperoleh tertulis atau dijelaskan dalam manasik, sehingga seluruh rombongan memiliki pemahaman yang sama. Perlu juga diingat bahwa pengaturan di kawasan kunjungan resmi dapat berubah mengikuti kebijakan pengelola dan otoritas setempat, sehingga konfirmasi terakhir sebelum keberangkatan tetap diperlukan.

Umroh plus Al Ula pada akhirnya adalah pilihan, bukan keharusan. Ia cocok bagi jemaah yang memiliki waktu lebih panjang, kondisi fisik yang memadai, dan niat yang tertata untuk mengambil pelajaran dari jejak umat terdahulu. Bagi jemaah yang ingin memusatkan seluruh hari perjalanan di dua kota suci, paket tanpa tambahan tetap menjadi pilihan yang baik dan tidak kurang nilainya. Tim Payung Madinah Umroh & Haji Official terbuka untuk membantu menimbang pilihan tersebut sesuai keadaan masing-masing jemaah, termasuk menjelaskan rincian program dan persyaratannya melalui kanal resmi perusahaan.

Informasi resmi mengenai penyelenggaraan perjalanan umroh di Indonesia dapat dibaca di kanal Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (haji.go.id), sementara ketentuan layanan dan perizinan ibadah di Arab Saudi dapat diperiksa melalui Nusuk (nusuk.sa).

Foto thumbnail: Hatem Boukhit / Unsplash.