Sejarah Masjid Quba: Masjid Pertama dalam Islam dan Keutamaan Sholat di Dalamnya

Sejarah Masjid Quba: Masjid Pertama dalam Islam dan Keutamaan Sholat di Dalamnya

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam, berdiri di sebuah kawasan di sebelah selatan Kota Madinah. Bagi banyak jemaah umroh asal Indonesia, masjid ini menjadi salah satu tujuan ziarah yang paling dinanti setelah Masjid Nabawi. Bangunannya kini luas dan terang, jauh berbeda dari bentuknya yang semula sangat sederhana, tetapi nilai sejarahnya tidak pernah bergeser sedikit pun. Berkunjung ke Masjid Quba berarti menapaki titik awal berdirinya pusat ibadah kaum muslimin. Tulisan ini menguraikan sejarah masjid tersebut, keutamaan sholat di dalamnya, serta hal-hal praktis yang sebaiknya disiapkan jemaah sebelum datang.

Jejak Hijrah: Bagaimana Masjid Quba Berdiri

Kisah Masjid Quba tidak bisa dilepaskan dari peristiwa hijrah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dari Makkah menuju Yatsrib, nama Madinah sebelum kedatangan beliau. Setelah menempuh perjalanan panjang yang penuh risiko, rombongan beliau singgah lebih dulu di Quba, sebuah permukiman yang dihuni salah satu kabilah Anshar. Di tempat inilah beliau beristirahat beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat kota.

Alih-alih sekadar melepas lelah, hal pertama yang beliau kerjakan di Quba adalah membangun sebuah masjid. Bangunannya sederhana sekali: dinding dari batu dan tanah, tiang dari batang kurma, dan atap dari pelepah. Tidak ada kubah, tidak ada menara, tidak ada lampu gantung. Namun dari bangunan sederhana itulah lahir tradisi yang bertahan hingga hari ini, bahwa masjid adalah pusat pertama yang ditegakkan oleh sebuah masyarakat muslim, bukan pelengkap yang dibangun belakangan.

Pesan itu sering luput diperhatikan jemaah yang datang. Masjid Quba mengajarkan urutan prioritas: sebelum rumah, sebelum pasar, sebelum benteng pertahanan, yang lebih dahulu didirikan adalah tempat menghadap Allah dan tempat umat berkumpul. Ketika berdiri di halamannya yang kini berlapis marmer, ada baiknya jemaah menyempatkan diri membayangkan bentuk aslinya yang jauh lebih bersahaja, agar makna kunjungan terasa lebih dalam.

Keutamaan Sholat Dua Rakaat di Masjid Quba

Keutamaan yang paling sering disebut tentang masjid ini datang dari sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Sahl bin Hunaif dan tercatat dalam sejumlah kitab sunan, di antaranya Sunan at-Tirmidzi, Sunan Ibnu Majah, dan Sunan an-Nasa’i. Inti riwayat tersebut menyebutkan bahwa siapa yang bersuci di rumahnya, lalu datang ke Masjid Quba dan mengerjakan sholat di dalamnya, ia memperoleh pahala seperti pahala umroh.

Perlu dipahami bahwa yang disebutkan dalam riwayat itu adalah keserupaan pahala, bukan berarti kunjungan ke Quba menggantikan ibadah umroh atau menggugurkan rukunnya. Menurut sebagian ulama, sebagian lafal riwayat menekankan bersuci dari rumah atau tempat menginap sebagai bagian dari amalan yang dianjurkan. Karena itu, banyak pembimbing menyarankan jemaah berwudhu lebih dahulu di hotel sebelum berangkat, bukan menunggu sampai di lokasi.

Diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memiliki kebiasaan mendatangi Masjid Quba, kadang dengan berjalan kaki dan kadang dengan berkendara. Kebiasaan beliau ini menunjukkan bahwa kunjungan ke Quba bukan amalan yang diada-adakan belakangan, melainkan sunnah yang memang dicontohkan. Bagi jemaah umroh yang waktunya di Madinah terbatas, mengetahui hal ini membantu menempatkan Quba sebagai prioritas ziarah, bukan sekadar selingan wisata.

Masjid yang Dibangun di Atas Dasar Takwa

Dalam Al-Qur’an surah At-Taubah terdapat ayat yang menyebut sebuah masjid yang dibangun atas dasar takwa sejak hari pertama, dan menyebut bahwa di dalamnya terdapat orang-orang yang senang membersihkan diri. Sebagian besar ulama tafsir mengaitkan ayat tersebut dengan Masjid Quba, sementara sebagian lainnya memahaminya merujuk pada Masjid Nabawi. Perbedaan pandangan ini sudah berlangsung lama dan keduanya memiliki sandaran.

Terlepas dari perbedaan itu, pelajaran yang bisa diambil sama: nilai sebuah masjid tidak diukur dari kemegahan bangunannya, melainkan dari niat yang mendasarinya dan kualitas orang-orang yang meramaikannya. Masjid Quba berdiri dari bahan seadanya, tetapi diabadikan dalam sejarah karena dibangun dengan landasan yang benar.

Bagi jemaah, cara terbaik memaknai hal ini adalah dengan membawa pulang kebiasaannya, bukan hanya fotonya. Kesungguhan menjaga kebersihan diri, ketertiban di dalam masjid, dan kesediaan memakmurkan masjid di kampung halaman merupakan bentuk penghayatan yang jauh lebih bernilai daripada sekadar mencatat bahwa Quba pernah dikunjungi.

Wajah Masjid Quba dari Masa ke Masa

Sepanjang sejarah Islam, Masjid Quba mengalami banyak kali perbaikan dan perluasan. Setiap periode pemerintahan yang menguasai Madinah umumnya meninggalkan jejak pembangunannya, mulai dari penambahan ruang sholat, pembuatan menara, hingga penataan halaman. Bentuk yang dilihat jemaah hari ini merupakan hasil pembangunan besar pada masa Kerajaan Arab Saudi, dengan ruang sholat luas, kubah putih, dan pencahayaan alami yang melimpah.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan di sekitar masjid juga terus ditata agar mampu menampung kunjungan yang semakin ramai, termasuk penataan area pejalan kaki, tempat parkir, dan fasilitas pendukung jemaah. Pembenahan ini membuat kunjungan terasa lebih nyaman, tetapi juga berarti kondisi di lapangan bisa berubah dari waktu ke waktu.

Karena itu, jemaah sebaiknya tidak berpatokan pada cerita atau video lama. Jam operasional, jalur masuk jemaah perempuan dan laki-laki, serta titik penurunan bus dapat berbeda. Informasi terbaru biasanya disampaikan pembimbing rombongan di lokasi.

Adab dan Persiapan Berkunjung ke Masjid Quba

Kunjungan ke Masjid Quba umumnya dijadwalkan pada pagi hari, saat suhu masih bersahabat dan kepadatan belum memuncak. Agar waktu yang singkat tidak habis untuk urusan teknis, ada beberapa hal yang sebaiknya disiapkan jemaah sejak dari penginapan:

  • Berwudhu dari hotel, sesuai anjuran yang disebut dalam riwayat tentang keutamaan masjid ini.
  • Mengenakan pakaian yang rapi dan sopan, serta membawa alas kaki yang mudah dilepas dan disimpan.
  • Membawa air minum secukupnya, terutama pada musim panas.
  • Mencatat nama dan nomor bus rombongan, karena area parkir bisa sangat ramai.
  • Menyepakati titik berkumpul dengan pembimbing sebelum turun dari bus.

Di dalam masjid, adabnya sama seperti di masjid mana pun: menjaga ketenangan, tidak mengganggu jemaah yang sedang sholat, dan tidak menghalangi jalur lalu lalang. Kegiatan memotret sebaiknya dilakukan seperlunya dan tidak mengarah pada wajah orang lain tanpa izin. Perlu diingat, Masjid Quba adalah masjid yang digunakan warga sekitar untuk ibadah harian, bukan objek wisata semata.

Satu hal yang kerap disesali jemaah adalah waktu yang terlalu banyak dipakai untuk berfoto sehingga kesempatan sholat justru terlewat. Padahal sholat dua rakaat itulah inti dari keutamaan yang selama ini dinantikan. Dahulukan sholat dan doa, baru dokumentasi bila masih ada sisa waktu.

Masjid Quba adalah pengingat bahwa sesuatu yang besar dalam sejarah Islam bermula dari bangunan yang sangat sederhana, ditegakkan dengan niat yang lurus. Memahami sejarahnya, keutamaan sholat di dalamnya, serta adab berkunjungnya akan membuat waktu singkat di Madinah terasa jauh lebih bermakna. Bagi Anda yang merencanakan perjalanan ibadah dan ingin agenda ziarah tersusun rapi, tim Payung Madinah Umroh & Haji Official siap menjelaskan pilihan program yang tersedia melalui halaman program umroh.

Ketentuan teknis perjalanan dan perizinan ibadah dapat diperbarui sewaktu-waktu. Jemaah dianjurkan mengonfirmasi informasi terbaru kepada travel penyelenggara atau sumber resmi seperti Kementerian Haji dan Umrah RI dan platform Nusuk.

Foto thumbnail: djonk creative / Unsplash.