Percetakan Al-Qur'an King Fahd di Madinah adalah perhentian yang paling sering diceritakan jemaah setelah pulang umroh, tetapi paling jarang dipahami sebelum berangkat. Banyak calon jemaah mengenalnya sekadar sebagai tempat membawa pulang mushaf, padahal yang berdiri di sana adalah kompleks penerbitan Al-Qur'an berskala besar yang hasil kerjanya kemungkinan sudah bertahun-tahun ada di rumah Anda sendiri. Memahami apa yang dikerjakan di tempat ini membuat kunjungan singkat itu terasa berbeda: bukan satu titik tambahan dalam jadwal ziarah, melainkan perjumpaan dengan satu mata rantai panjang penjagaan Al-Qur'an. Tulisan ini menjelaskan apa yang ada di sana, bagaimana kunjungannya biasanya berlangsung, dan adab yang sebaiknya disiapkan jemaah sejak dari rumah.
Apa Sebenarnya Kompleks Percetakan Mushaf di Madinah Itu
Nama lengkapnya dalam bahasa Arab adalah Mujamma' Al-Malik Fahd li Thiba'at Al-Mushaf Asy-Syarif, yang di Indonesia lazim disebut Kompleks Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd. Lokasinya di kawasan pinggiran Kota Madinah, menjauh dari lingkar Masjid Nabawi, sehingga hampir selalu dicapai dengan bus bersama rombongan. Kompleks ini didirikan pada masa pemerintahan Raja Fahd bin Abdulaziz dengan tujuan yang jelas: menyediakan mushaf cetakan bermutu tinggi dan menyalurkannya kepada umat Islam di berbagai negara.
Yang membedakan kompleks ini dari percetakan biasa adalah rangkaian kerja di dalamnya. Pencetakan hanyalah tahap akhir. Sebelum itu ada penyalinan naskah oleh penulis khat, penelitian, lalu tahap pemeriksaan ketelitian yang melibatkan para penghafal Al-Qur'an dan ahli ilmu untuk memastikan tidak ada satu pun huruf, harakat, atau tanda baca yang keliru. Di luar mushaf, kompleks ini juga menggarap penerjemahan makna Al-Qur'an ke banyak bahasa serta rekaman bacaan para qari.
Bagi jemaah, tahap pemeriksaan itulah yang paling layak direnungkan. Al-Qur'an terjaga bukan hanya lewat hafalan di dada manusia, tetapi juga lewat kerja teliti berlapis seperti ini: kesungguhan yang berdiri di balik satu lembar mushaf yang biasa kita buka tanpa banyak berpikir.
Mushaf Madinah dan Alasan Tampilannya Terasa Akrab
Produk yang paling dikenal dari kompleks ini adalah mushaf yang biasa disebut Mushaf Al-Madinah An-Nabawiyah. Mushaf inilah yang tersusun di rak-rak Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, diambil jemaah ketika hendak membaca sambil menunggu waktu sholat. Karena itu, banyak jemaah merasa akrab dengan tampilannya bahkan sebelum berkunjung ke kompleks percetakannya: huruf yang tegas, penataan halaman yang lapang, dan akhir juz yang jatuh rapi di ujung halaman.
Ada satu hal praktis yang sebaiknya diketahui jemaah Indonesia. Mushaf yang terbiasa dipakai di tanah air mengikuti standar penulisan dan tanda waqaf yang disusun di Indonesia, sedangkan mushaf cetakan Madinah memakai konvensi yang sedikit berbeda, terutama pada tanda-tanda berhenti dan penempatan akhir ayat di halaman. Perbedaan itu bukan perbedaan isi Al-Qur'an, melainkan perbedaan konvensi penulisan dan tanda bantu baca.
Karena itu, jemaah yang terbiasa menghafal dengan letak halaman mushaf Indonesia sebaiknya tidak terkejut bila peta hafalannya terasa bergeser. Bila ragu pada satu tanda waqaf, bertanya kepada pembimbing ibadah dalam rombongan jauh lebih baik daripada menduga sendiri.
Posisi Kunjungan Ini dalam Rangkaian Ziarah Madinah
Dalam banyak rangkaian ziarah kota Madinah, kompleks percetakan ini ditempatkan berdampingan dengan titik-titik lain seperti Masjid Quba, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, dan kebun kurma. Urutannya menyesuaikan arah perjalanan bus dan waktu sholat, sehingga tidak selalu sama antarrombongan.
Satu hal perlu disampaikan terus terang agar harapan jemaah tidak salah tempat: akses masuk ke dalam kawasan bergantung pada izin dan kebijakan pengelola yang berlaku saat kunjungan, dan hal itu dapat berubah. Ada masa ketika rombongan dapat menyusuri jalur kunjungan di dalam, ada pula masa ketika rombongan hanya berhenti di area luar. Begitu pula ketersediaan mushaf sebagai cenderamata: itu kebijakan pengelola, bukan sesuatu yang bisa dijanjikan penyelenggara perjalanan. Jemaah yang menempatkannya sebagai bonus yang disyukuri akan lebih lapang hatinya.
Beberapa kebiasaan baik selama kunjungan: tetap bersama rombongan, mengikuti arahan petugas, dan menahan diri untuk tidak memotret di area yang tidak diizinkan. Kompleks ini tempat kerja, bukan lokasi wisata, dan sikap tenang jemaah ikut menentukan apakah rombongan berikutnya masih diterima dengan baik.
Adab Memperlakukan Mushaf Selama dan Setelah Kunjungan
Mushaf yang dibawa pulang dari Madinah sering menjadi barang paling bernilai dalam koper jemaah, dan nilainya menuntut cara memperlakukan yang pantas. Menurut sebagian ulama, menyentuh mushaf disyaratkan dalam keadaan bersuci; sebagian ulama lain membedakan antara menyentuh dan membaca tanpa menyentuh. Jalan yang aman bagi jemaah awam adalah tetap berwudhu ketika memegang mushaf, dan bertanya kepada pembimbing ibadah bila menghadapi keadaan tidak biasa.
Adab lain yang lebih disepakati: tidak meletakkan mushaf langsung di lantai, tidak menumpuk barang di atasnya, membawanya dengan tangan atau mendekapnya, dan menyimpannya di posisi terhormat di rumah. Para ulama juga menganjurkan agar mushaf yang telah lapuk tidak dibuang bersama sampah, melainkan diserahkan kepada lembaga yang menanganinya dengan cara terjaga.
Satu hal yang mudah terlupakan: niat. Mushaf yang dibawa jauh dari Madinah lalu hanya berdiri rapi di lemari belum memenuhi maksudnya. Niatkan sejak di tanah suci bahwa mushaf itu akan dibaca, bukan dipajang; sebagian jemaah menandainya dengan membaca satu halaman pertama di Madinah.
Membawa Mushaf Pulang: Hal Teknis yang Sering Terlewat
Mushaf cetakan Madinah umumnya tebal dan berbobot, dan sering kali tidak hanya satu yang dibawa karena ada pesanan keluarga di rumah. Ruang dan berat koper perlu diperhitungkan sejak awal, berbarengan dengan air zamzam, kurma, dan perlengkapan ibadah. Menyiapkan ruang kosong di koper sebelum berangkat jauh lebih mudah daripada memilih barang yang harus ditinggalkan pada malam terakhir.
Agar sampai di rumah tetap utuh, mushaf sebaiknya dibungkus kain lalu diletakkan di bagian tengah koper, terlindung pakaian, bukan di sisi luar yang paling sering terbentur. Jemaah yang membawa mushaf titipan sebaiknya mencatat untuk siapa masing-masing, agar tidak tertukar saat dibagikan.
Ketentuan bagasi tiap maskapai berbeda dan dapat diperbarui sewaktu-waktu, begitu pula ketentuan membawa air zamzam. Hal teknis seperti ini sebaiknya dikonfirmasi kepada tim travel menjelang keberangkatan, bukan disimpulkan dari pengalaman orang lain.
Menutup: Satu Perhentian yang Layak Disiapkan
Kompleks percetakan mushaf di Madinah adalah perhentian yang nilainya bergantung pada kesiapan jemaah. Bagi yang mengerti apa yang dikerjakan di dalamnya, ia menjadi pengingat bahwa Al-Qur'an yang dibaca setiap hari sampai ke tangan kita melalui kesungguhan yang panjang. Siapkan adabnya, siapkan ruang di koper, dan siapkan niat untuk membacanya.
Perlu diingat bahwa rangkaian ziarah, akses kunjungan, dan ketentuan teknis perjalanan dapat berubah mengikuti kebijakan yang berlaku, sehingga sebaiknya dikonfirmasi kepada tim travel atau sumber resmi sebelum keberangkatan. Untuk membicarakan rencana ziarah kota Madinah lebih rinci, jemaah dapat berkonsultasi dengan tim Payung Madinah Umroh & Haji Official melalui kanal resmi perusahaan, atau menengok gambaran program di halaman umroh Payung Madinah.
Rujukan resmi: ketentuan penyelenggaraan umroh bagi jemaah Indonesia dapat dirujuk ke Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, sedangkan ketentuan layanan dan perizinan di Arab Saudi dapat dirujuk ke kanal resmi Nusuk.
Foto thumbnail: Masjid Daarut Tauhiid Jakarta / Unsplash.