Pasar Balad di Kota Tua Jeddah: Sejarah Gerbang Menuju Makkah dan Adab Berkunjung bagi Jemaah Umroh

Pasar Balad di Kota Tua Jeddah: Sejarah Gerbang Menuju Makkah dan Adab Berkunjung bagi Jemaah Umroh

Pasar Balad di kota tua Jeddah biasanya hanya disebut sebagai tempat berbelanja sebelum pulang, padahal kawasan itu menyimpan lapisan sejarah yang berkaitan langsung dengan perjalanan jemaah umroh Indonesia. Jeddah sering menjadi kota pertama yang dipijak setelah turun dari pesawat, lalu segera ditinggalkan menuju Makkah. Akibatnya jarang ada kesempatan untuk bertanya mengapa kota di tepi Laut Merah ini dijuluki gerbang menuju Makkah. Tulisan ini membahas latar sejarah kawasan Al-Balad, bentuk rumah-rumah tuanya, apa yang umumnya dicari jemaah di pasarnya, serta hal-hal yang perlu dipastikan lebih dulu agar kunjungan singkat itu tidak mengganggu ibadah utama.

Jeddah, Kota yang Paling Sering Hanya Dilewati

Bagi banyak jemaah, Jeddah adalah nama yang tercetak di tiket dan terdengar sekali dua kali pada pengumuman bandara. Rombongan mendarat, menyelesaikan proses kedatangan, lalu melanjutkan perjalanan darat. Kota itu berpindah begitu cepat di belakang jendela bus sehingga sulit dikenang sebagai kota, melainkan sebagai jeda antara pesawat dan Makkah.

Padahal Jeddah bukan kota yang kebetulan berada di jalur umroh. Peranannya sebagai pintu masuk menuju Makkah sudah berlangsung jauh sebelum penerbangan komersial ada, dan jejak peran itu masih dapat dilihat sampai sekarang di kawasan kota tuanya. Sebagian paket perjalanan menyisipkan kunjungan singkat ke kawasan ini, biasanya menjelang kepulangan. Sebagian lain tidak, bergantung pada rute penerbangan dan susunan itinerary.

Karena itu langkah pertama yang masuk akal bukan membayangkan isi tas belanjaan, melainkan menanyakan lebih dulu kepada tim travel apakah kunjungan ke Jeddah memang tercantum dalam rencana perjalanan rombongan.

Mengapa Jeddah Disebut Gerbang Menuju Makkah

Sebelum perjalanan udara menjadi lazim, jemaah dari berbagai penjuru dunia datang dengan kapal melintasi Laut Merah. Pelabuhan Jeddah adalah titik mereka turun, beristirahat, mengurus perbekalan, lalu meneruskan perjalanan darat ke Makkah. Berpekan-pekan di laut berakhir di kota ini, dan dari kota ini pula langkah menuju Baitullah dimulai.

Peran tersebut melekat pada namanya. Kota tua Jeddah dahulu dilingkari dinding dengan beberapa pintu, dan pintu yang menghadap jalan ke arah Makkah dikenal sebagai Bab Makkah. Nama itu masih dipakai untuk menyebut kawasan di sekitarnya hingga hari ini. Inti kota lama itulah yang kini disebut Al-Balad, dan kawasan bersejarah tersebut telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Bagi jemaah, pengetahuan ini mengubah cara memandang kota tersebut. Jeddah bukan sekadar tempat transit, melainkan tempat yang pernah menjadi titik awal perjalanan generasi sebelum kita, termasuk jemaah dari Nusantara yang berlayar berbulan-bulan untuk sampai ke Tanah Suci.

Membaca Rumah-Rumah Tua: Rawasyin dan Batu Karang

Yang paling cepat menarik perhatian di Al-Balad adalah rumah-rumah tinggi berlantai banyak dengan balkon kayu bertutup kisi-kisi. Kisi-kisi kayu itu disebut rawasyin. Fungsinya bukan sekadar hiasan: lubang-lubang kecil pada kayu meloloskan angin laut ke dalam ruangan sekaligus menjaga privasi penghuni, sesuatu yang berharga di kota pantai yang panas dan lembap.

Dinding bangunannya memakai bahan yang tersedia di sekitarnya, antara lain batu dari karang laut yang disusun dan diperkuat balok kayu. Gang-gangnya pun sempit sehingga bangunan saling menaungi dan jalan tetap teduh pada siang hari. Rancangan seperti ini adalah jawaban atas iklim, bukan selera semata.

Perlu diketahui bahwa kondisi bangunan di kawasan itu tidak seragam. Sebagian sudah dipugar dan terawat, sebagian lain masih menunggu perbaikan dan tidak dapat dimasuki. Berjalan sambil memperhatikan arahan pemandu membuat kunjungan lebih aman sekaligus lebih berisi.

Pasar di Kawasan Balad dan Apa yang Biasanya Dicari Jemaah

Di dalam dan di sekitar kawasan kota tua terdapat deretan pasar yang sejak lama menjadi tujuan jemaah: kurma, kacang-kacangan, minyak wangi dan oud, sajadah, tasbih, kain ihram, kerudung, abaya, hingga tas untuk mengemas semuanya. Suasananya ramai, sebagian penjual mengerti sepotong-sepotong bahasa Indonesia, dan tawar-menawar adalah hal yang wajar di sana.

Beberapa kebiasaan sederhana sangat membantu. Tanyakan harga lebih dulu dan bandingkan dua atau tiga kios sebelum memutuskan. Pisahkan uang belanja dari dokumen perjalanan dan simpan di tempat yang tidak mudah dijangkau orang lain. Mintalah bukti pembayaran bila penjual menyediakannya, lalu simpan sampai perjalanan berakhir.

Satu hal yang sering terlupakan adalah daya angkut koper. Batas berat bagasi berbeda antar maskapai dan antar rute, sehingga menanyakannya kepada tim travel sebelum berbelanja banyak akan menghindarkan kerepotan di bandara. Memisahkan buah tangan untuk setiap penerima sejak masih di hotel juga jauh lebih ringan daripada membongkar koper setelah tiba di rumah.

Hal yang Perlu Dipastikan Sebelum Berkunjung

Pertama, pastikan statusnya di dalam itinerary. Kunjungan ke kawasan kota tua bersifat pelengkap dan bergantung pada rute serta waktu yang tersedia, bukan bagian dari rangkaian ibadah umroh.

Kedua, perhatikan waktu. Siang hari di Jeddah panas dan lembap; sore menjelang malam umumnya lebih nyaman untuk berjalan, dan kawasan pasar justru lebih hidup setelah matahari turun.

Ketiga, bila rombongan masih dalam keadaan ihram ketika berada di Jeddah, ikuti arahan pembimbing ibadah mengenai apa yang boleh dilakukan dan apa yang sebaiknya ditunda, termasuk soal pemakaian wewangian. Menanyakan lebih dulu jauh lebih aman daripada memutuskan sendiri di tengah keramaian.

Keempat, jaga rombongan tetap utuh. Catat titik dan waktu berkumpul, kenali nomor atau ciri bus, bawa kartu hotel, dan simpan nomor pendamping. Di gang yang padat, terpisah dua menit saja sudah cukup membuat seseorang kehilangan arah.

Kelima, hormati penghuni dan pedagang. Kawasan itu adalah tempat orang bekerja dan tinggal, bukan ruang pamer. Meminta izin sebelum memotret orang adalah adab sederhana yang meninggalkan kesan baik.

Menjaga Takaran antara Melihat Sejarah dan Menjaga Ibadah

Kunjungan ke kota tua paling berkesan ketika porsinya tepat. Berbelanja hingga larut malam sebelum penerbangan panjang, atau sebelum rangkaian ibadah berikutnya, sering berbuntut pada tenaga yang habis di waktu yang salah. Menyepakati batas waktu bersama rombongan sejak awal membuat semua orang lebih tenang.

Cara lain yang praktis adalah membagi tugas. Satu atau dua orang berbelanja untuk kebutuhan keluarga, sementara yang lain beristirahat di penginapan. Dengan begitu buah tangan tetap terpenuhi tanpa seluruh rombongan kehilangan jam istirahat.

Kota tua Jeddah menawarkan sesuatu yang tidak didapat dari daftar tempat belanja, yaitu kesempatan memahami bahwa perjalanan menuju Makkah telah ditempuh orang-orang jauh sebelum kita melalui pelabuhan yang sama. Mengetahui statusnya sebagai pelengkap, memilih waktu yang tepat, dan menjaga adab di tempat tinggal orang lain akan membuat kunjungan singkat itu terasa utuh tanpa mengurangi fokus ibadah. Untuk mengetahui rute ziarah, pendampingan pembimbing ibadah, dan pengaturan waktu perjalanan yang tetap mengutamakan ibadah, jemaah dapat berkonsultasi dengan tim Payung Madinah Umroh & Haji Official melalui halaman program umroh.

Ketentuan kunjungan dan ketersediaan titik wisata maupun ziarah di Arab Saudi dapat berubah sewaktu-waktu. Jemaah dianjurkan mengonfirmasi ketentuan terkini kepada travel atau sumber resmi seperti Kementerian Haji dan Umrah RI dan kanal layanan resmi Nusuk.

Foto thumbnail: abdullah alallah / Unsplash.