Mencium Hajar Aswad adalah salah satu momen yang paling dirindukan jemaah ketika pertama kali berdiri di pelataran Masjidil Haram. Batu hitam yang tertanam pada salah satu sudut Ka'bah itu menjadi titik awal dan titik akhir setiap putaran thawaf, sekaligus area yang hampir selalu dipadati jemaah dari berbagai negara. Keinginan untuk menyentuh dan menciumnya sangat wajar, tetapi kepadatan di sekitarnya menuntut kesabaran serta pemahaman yang cukup. Tidak sedikit jemaah pemula pulang dengan rasa kecewa karena merasa ibadahnya kurang sempurna, padahal pemahaman yang benar justru akan menenangkan hati. Tulisan ini menguraikan kedudukan sunnah tersebut, adab yang perlu dijaga, cara membaca kepadatan, dan alternatif yang tetap sejalan dengan tuntunan.
Kedudukan Hajar Aswad sebagai Titik Awal Thawaf
Hajar Aswad terletak pada salah satu sudut Ka'bah dan menjadi penanda dimulainya hitungan putaran thawaf. Setiap jemaah yang memulai thawaf akan menghadap sudut tersebut, lalu bergerak mengelilingi Ka'bah hingga kembali ke titik yang sama. Karena fungsinya sebagai penanda inilah, sudut Hajar Aswad menjadi ruang yang paling ramai di seluruh area mataf: ribuan orang memulai dan mengakhiri putaran di tempat yang sama.
Penting dipahami sejak awal bahwa penghormatan kepada Hajar Aswad tidak bermakna mengagungkan benda. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab pernah mengingatkan bahwa batu itu tidak mendatangkan manfaat maupun mudarat dengan sendirinya, dan beliau menciumnya semata-mata karena mengikuti contoh Rasulullah. Pemahaman ini menjaga niat jemaah tetap lurus: yang dilakukan adalah meneladani, bukan mengharap kekuatan dari batu.
Dengan kerangka berpikir tersebut, jemaah akan lebih mudah menerima kenyataan bahwa tidak semua orang berkesempatan mendekat. Nilai ibadah tidak diukur dari seberapa dekat seseorang berhasil menembus kerumunan, melainkan dari kepatuhan pada tuntunan dan kelapangan hati dalam menjalankannya.
Sunnah yang Dianjurkan, Bukan Rukun yang Menggugurkan
Para ulama menerangkan bahwa mencium Hajar Aswad termasuk amalan sunnah dalam thawaf, bukan rukun yang membuat thawaf tidak sah bila ditinggalkan. Artinya, jemaah yang sama sekali tidak dapat menyentuhnya tetap menunaikan thawaf secara sempurna selama syarat dan rukun lainnya terpenuhi. Kabar ini melegakan, terutama bagi jemaah lanjut usia, jemaah perempuan, dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik.
Berdasarkan sejumlah riwayat, para ulama menyusun urutan pilihan yang dapat ditempuh sesuai kondisi. Bila memungkinkan tanpa mendesak orang lain, jemaah boleh menciumnya. Bila tidak, cukup menyentuh dengan tangan lalu mencium tangan tersebut. Bila keduanya tidak memungkinkan, jemaah berisyarat dari kejauhan sambil bertakbir. Ketiga pilihan itu sah dijalankan, dan yang paling sesuai adalah yang paling aman bagi diri sendiri maupun jemaah di sekitar.
Sebagian ulama bahkan menegaskan bahwa meninggalkan amalan sunnah lebih baik daripada menunaikannya dengan cara yang menyakiti sesama muslim. Mendorong, menyikut, atau memanfaatkan celah dengan kasar bertentangan dengan ruh ibadah yang sedang dijalani. Sunnah yang diraih dengan menzalimi orang lain bukanlah keuntungan.
Adab yang Perlu Dijaga di Sudut Ka'bah
Adab pertama adalah menahan diri. Area sudut Hajar Aswad sering menjadi tempat berkumpulnya arus dari beberapa arah sekaligus, sehingga gerakan mendadak berpotensi mencederai orang lain. Jemaah dianjurkan bergerak mengikuti arus, tidak berhenti tiba-tiba, dan tidak berbalik arah di tengah kepadatan. Bila terjepit, tetap tenang dan bergerak perlahan ke sisi luar.
Adab kedua adalah tidak berlama-lama. Setelah mendapat kesempatan, jemaah sebaiknya segera bergeser agar yang lain juga memperoleh giliran. Menghabiskan waktu panjang di titik itu, apalagi untuk berfoto, membuat antrean di belakang tertahan. Menjaga suara juga termasuk adab; berdoa dengan lirih lebih sesuai dengan suasana ibadah daripada berseru keras.
Adab ketiga adalah mengikuti arahan petugas Masjidil Haram tanpa berdebat. Petugas mengatur arus demi keselamatan bersama dan berhak meminta jemaah bergeser. Perlu diketahui pula bahwa Hajar Aswad kadang diberi wewangian, sehingga sebagian ulama mengingatkan jemaah yang sedang berihram untuk berhati-hati agar tidak terkena aroma tersebut. Bila ragu, berisyarat dari kejauhan adalah pilihan yang lebih tenang.
Membaca Waktu dan Arus Jemaah
Kepadatan di sekitar Ka'bah berubah sepanjang hari. Waktu-waktu sesudah sholat berjamaah umumnya jauh lebih ramai karena jemaah yang baru menuntaskan sholat langsung bergerak ke mataf. Masa liburan, akhir pekan, dan bulan-bulan yang banyak diminati juga membuat pelataran lebih penuh dibandingkan hari biasa.
Sebaliknya, rentang larut malam hingga menjelang subuh relatif lebih lapang di luar musim padat. Karena kondisi ini tidak pernah persis sama, cara paling aman adalah mengamati keadaan sesaat sebelum thawaf dan bertanya kepada tour leader atau muthawwif yang mendampingi. Mereka biasanya sudah mengenali pola kepadatan di hari-hari keberangkatan rombongan.
Bila mataf di lantai dasar terlalu padat, thawaf di lantai atas tetap sah dan jauh lebih nyaman, khususnya bagi jemaah lanjut usia atau yang membawa anak. Pada posisi tersebut, sunnah menyentuh memang tidak dapat ditunaikan, namun isyarat tetap bisa dilakukan dan thawaf berjalan lancar tanpa risiko terhimpit.
Isyarat dari Kejauhan: Cara Aman Meraih Sunnah
Berisyarat dilakukan dengan menghadap ke arah sudut Hajar Aswad, mengangkat tangan kanan ke arahnya, lalu mengucapkan takbir seraya melanjutkan langkah. Cara ini tidak mengharuskan jemaah berhenti, sehingga arus di belakang tetap mengalir. Mengenai perlu atau tidaknya mencium tangan setelah berisyarat, terdapat perbedaan pandangan di antara ulama, sehingga jemaah dapat mengikuti bimbingan pembimbing ibadahnya masing-masing.
Agar hitungan putaran tidak keliru, tandai permulaan setiap putaran pada saat berisyarat dan hitung dengan cermat sejak awal. Jemaah yang berangkat bersama keluarga sebaiknya menyepakati titik temu sebelum masuk mataf, sebab area itu mudah memisahkan rombongan. Menyiapkan bacaan dan doa sejak dari hotel juga membuat thawaf lebih tertata dan khusyuk.
Pada akhirnya, isyarat bukan pilihan kelas dua. Ia adalah jalan yang dicontohkan ketika keadaan tidak memungkinkan, dan menjalankannya dengan ikhlas bernilai lebih tinggi daripada memaksakan diri hingga membahayakan orang lain.
Mencium Hajar Aswad adalah kerinduan yang indah, namun ia sunnah yang dijalankan sesuai kemampuan, bukan target yang harus ditaklukkan. Pahamilah kedudukannya, jaga adabnya, baca kepadatan dengan sabar, dan gunakan isyarat ketika mendekat tidak memungkinkan. Dengan begitu, thawaf terasa tenang dan hati tetap lapang sejak putaran pertama hingga terakhir. Bagi calon jemaah yang ingin mendapat pembekalan manasik dan pendampingan sejak sebelum keberangkatan, tim Payung Madinah Umroh & Haji Official siap membantu menyiapkan perjalanan ibadah Anda dengan tenang dan sesuai tuntunan.
Informasi resmi penyelenggaraan umroh bagi jemaah Indonesia dapat dirujuk ke Kementerian Haji dan Umrah RI, sementara layanan dan perizinan di dua masjid suci dikelola melalui platform resmi Nusuk. Ketentuan di lapangan dapat diperbarui, sehingga jemaah sebaiknya mengonfirmasi kondisi terkini kepada pembimbing ibadah atau tim travel sebelum keberangkatan.
Foto thumbnail: ibrahim uz / Unsplash.