Masjid Qiblatain di Madinah: Sejarah Perpindahan Kiblat dan Adab Berkunjung bagi Jemaah Umroh

Masjid Qiblatain di Madinah: Sejarah Perpindahan Kiblat dan Adab Berkunjung bagi Jemaah Umroh

Masjid Qiblatain adalah salah satu tempat bersejarah di Madinah yang hampir selalu disinggahi rombongan umroh asal Indonesia ketika menjalani ziarah kota. Namanya berarti masjid dengan dua kiblat, dan dari nama itulah seluruh kisahnya bermula. Di tempat inilah, menurut catatan sirah yang masyhur, arah kiblat kaum muslimin berpindah dari Baitul Maqdis menuju Ka'bah di Masjidil Haram. Bagi banyak jemaah, kunjungan ke masjid ini berlangsung singkat: turun dari bus, mengambil beberapa foto, lalu melanjutkan perjalanan. Padahal, bila latar peristiwanya dipahami lebih dahulu, berdiri di halaman masjid ini bisa menjadi pengingat yang kuat tentang makna ketaatan. Tulisan ini merangkum letaknya, sejarahnya, wujudnya hari ini, serta adab yang sebaiknya dijaga ketika berkunjung.

Letak Masjid Qiblatain dan Tempatnya dalam Rute Ziarah Madinah

Masjid Qiblatain berada di sisi barat laut Kota Madinah, di kawasan yang menurut catatan sejarah dahulu merupakan perkampungan Bani Salamah. Bangunannya mudah dikenali dari kejauhan dengan dua menara putih yang menjulang dan kubah yang tampak bersih memantulkan cahaya matahari. Jaraknya dari kawasan Masjid Nabawi tidak terlalu jauh, dan perjalanan ke sana umumnya hanya memakan waktu singkat dengan kendaraan rombongan.

Dalam program ziarah kota Madinah, Masjid Qiblatain biasanya dikunjungi dalam satu rangkaian bersama Masjid Quba, Jabal Uhud, dan kebun kurma. Urutan kunjungannya bisa berbeda antar rombongan, bergantung pada kepadatan lalu lintas serta jarak ke waktu sholat berikutnya. Karena itu, jemaah sebaiknya mengikuti susunan yang disampaikan pembimbing pada hari ziarah.

Halaman masjid sudah tertata untuk menerima peziarah, dengan area parkir kendaraan besar dan jalur pejalan kaki yang lapang. Pada musim umroh, banyak rombongan tiba hampir bersamaan sehingga halaman bisa terasa padat, dan kesepakatan titik kumpul menjadi hal kecil yang sangat menentukan kelancaran rombongan.

Peristiwa Perpindahan Kiblat yang Menjadi Asal Namanya

Pada masa awal setelah hijrah, kaum muslimin menunaikan sholat dengan menghadap Baitul Maqdis. Menurut catatan sirah yang masyhur, keadaan itu berlangsung sekitar enam belas hingga tujuh belas bulan, sampai kemudian turun perintah yang mengalihkan arah sholat ke Masjidil Haram. Sejumlah ayat dalam Surah Al-Baqarah berbicara tentang peralihan arah kiblat ini, termasuk isyarat bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sesungguhnya mengharapkan perubahan tersebut.

Riwayat yang banyak dikutip menyebutkan bahwa perintah itu sampai ketika sholat berjamaah sedang berlangsung di masjid kaum Bani Salamah. Rasulullah kemudian memutar arah menghadap Ka'bah, dan para sahabat yang berada di belakang beliau ikut berputar mengikuti arah baru tanpa membatalkan sholat mereka. Sebagian riwayat menyebut peristiwa itu terjadi pada sholat Zuhur, sebagian lain menyebut sholat Asar; perbedaan semacam ini lazim ditemukan dalam catatan sejarah dan tidak mengurangi inti peristiwanya.

Dari kejadian itulah masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Qiblatain, tempat sholat pernah ditunaikan dengan dua arah kiblat dalam satu waktu. Yang membuat kisah ini terus diceritakan bukan pergantian arahnya, melainkan kecepatan para sahabat menerima perintah tanpa menunda.

Wujud Masjid Qiblatain Hari Ini

Sebagian jemaah datang dengan bayangan akan melihat dua mihrab berhadapan dalam satu ruangan, sebagaimana gambar lama yang banyak beredar. Perlu dipahami bahwa bangunan masjid ini telah beberapa kali ditata ulang dan diperluas pada masa modern, sehingga tampilannya sekarang berbeda cukup jauh dari wujud lamanya. Yang dijumpai saat ini adalah masjid berwarna putih bersih dengan ruang sholat lapang, berpendingin udara, dan tertata rapi seperti masjid besar lain di Madinah.

Perubahan wujud ini kerap menimbulkan sedikit kekecewaan bagi jemaah yang datang hanya untuk mengejar satu objek foto. Pembimbing ziarah karena itu biasanya menjelaskan lebih dahulu apa yang akan dijumpai di lokasi. Nilai tempat ini memang terletak pada peristiwanya, bukan pada bentuk bangunannya.

Bagi jemaah yang ingin menunaikan sholat sunnah di dalamnya, kesempatan itu biasanya tersedia bila jadwal rombongan memungkinkan. Perlu dicatat bahwa keutamaan khusus yang disebutkan dalam riwayat untuk sholat di masjid tertentu di Madinah dikaitkan dengan Masjid Nabawi dan Masjid Quba, sehingga sholat di sini dipahami sebagai sholat sunnah biasa di tempat bersejarah.

Adab dan Hal Praktis yang Perlu Diperhatikan

Kunjungan ke tempat bersejarah tetap bagian dari perjalanan ibadah, sehingga adabnya perlu dijaga sebagaimana di masjid mana pun. Beberapa hal berikut biasanya diingatkan pembimbing sebelum rombongan turun:

  • Masuk masjid dengan tenang, menjaga volume suara, dan tidak berdesakan di pintu ketika rombongan lain sedang keluar.
  • Mendahulukan sholat sunnah dan doa pribadi sebelum mengambil dokumentasi, bukan sebaliknya.
  • Menghormati jemaah setempat yang sedang beribadah, termasuk tidak melintas di depan orang yang sedang sholat.
  • Mengikuti arahan petugas mengenai pintu masuk, area jemaah perempuan, dan batas waktu kunjungan.
  • Menjaga kebersihan halaman serta tidak meninggalkan barang bawaan tanpa pengawasan.

Dari sisi praktis, jemaah disarankan membawa air minum secukupnya, mengenakan alas kaki yang mudah dilepas, dan menyiapkan pelindung kepala bila kunjungan berlangsung menjelang siang. Mengingat ciri kendaraan rombongan juga membantu, sebab banyak bus serupa terparkir bersamaan.

Satu hal yang perlu dihindari adalah amalan tanpa dasar riwayat, seperti mengusap bagian bangunan dengan harapan memperoleh berkah, atau meyakini doa tertentu hanya terkabul bila dibaca di tempat itu. Berdoa di tempat bersejarah diperbolehkan, namun harapan tetap ditujukan kepada Allah, bukan kepada tempatnya.

Pelajaran dari Perpindahan Kiblat bagi Jemaah Masa Kini

Pelajaran yang paling sering diangkat dari peristiwa di masjid ini adalah kesediaan menerima arahan dengan cepat dan lapang dada. Para sahabat mengubah arah sholat di tengah ibadah yang sedang berlangsung, tanpa menunda sampai selesai untuk berdiskusi. Sikap ini terasa relevan bagi jemaah umroh, yang sepanjang perjalanan berkali-kali diminta menyesuaikan rencana.

Dalam praktiknya, jadwal ziarah bisa bergeser karena lalu lintas, pintu masuk masjid dapat dialihkan mengikuti kebijakan petugas, dan urutan kunjungan kadang ditukar demi mengejar waktu sholat. Rombongan yang terbiasa mengikuti arahan pembimbing dengan tenang umumnya menyelesaikan ziarah lebih lancar dan lebih sedikit kelelahan.

Pelajaran kedua adalah pentingnya memahami lebih dahulu tempat yang akan dikunjungi. Jemaah yang mengetahui kisahnya akan menyikapinya dengan cara berbeda: kunjungan singkat sekalipun terasa penuh, sementara yang datang tanpa bekal cerita sering pulang hanya membawa foto.

Masjid Qiblatain mengingatkan bahwa sebuah tempat menjadi berarti karena peristiwa dan keteladanan yang pernah terjadi di sana. Dengan memahami sejarahnya sebelum berangkat, jemaah dapat memanfaatkan waktu singkat di lokasi dengan lebih tenang dan khusyuk. Bagi calon jemaah yang ingin merencanakan perjalanan umroh dengan pendampingan serta program ziarah yang tertata, Payung Madinah Umroh & Haji Official siap membantu menyiapkan setiap tahapannya. Gambaran program selengkapnya dapat dilihat di halaman umroh Payung Madinah atau melalui konsultasi bersama tim.

Informasi resmi seputar penyelenggaraan umroh bagi jemaah Indonesia dapat dirujuk ke Kementerian Haji dan Umrah RI, sedangkan layanan dan perizinan bagi pengunjung di Arab Saudi dapat dipantau melalui Nusuk. Ketentuan serta penataan di lokasi ziarah dapat diperbarui sewaktu-waktu, sehingga jemaah disarankan mengonfirmasi kembali kepada travel atau sumber resmi sebelum keberangkatan.

Foto thumbnail: Afif Ramdhasuma / Unsplash.