Kebun kurma Madinah hampir selalu disebut ketika jemaah umroh Indonesia membicarakan rangkaian kunjungan di Kota Nabi. Namanya muncul berdampingan dengan Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud dalam percakapan tentang ziarah. Bedanya, kebun kurma bukan situs peribadatan, melainkan lahan pertanian yang masih hidup dan bekerja sampai hari ini. Justru di sanalah daya tariknya: pengunjung dapat melihat langsung pohon yang hasilnya selama berabad-abad menjadi bagian dari meja makan penduduk Madinah. Tulisan ini membahas latar sejarahnya, kedudukannya dalam perjalanan umroh, ragam kurma yang dijumpai, serta adab dan persiapan sebelum berkunjung.
Madinah dan Pohon Kurma yang Menyertai Sejarahnya
Madinah tumbuh sebagai kota oasis. Lembah-lembah di sekitarnya menyimpan air tanah yang memungkinkan pertanian berkembang di tengah kawasan kering, dan pohon kurma menjadi tanaman yang paling cocok dengan keadaan itu: tahan panas, berumur panjang, serta hasilnya mudah disimpan dalam waktu lama. Jauh sebelum kota ini dikenal dengan nama Madinah, kehidupan penduduknya sudah bersandar pada kebun dan ladang.
Dalam banyak riwayat yang masyhur di kalangan umat Islam, kurma hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madinah pada masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, mulai dari makanan pembuka, bekal perjalanan, hingga bahan sedekah. Kebun-kebun di sekeliling kota pun beberapa kali disebut dalam kisah peristiwa penting pada masa itu. Latar inilah yang membuat sebuah kebun kurma di Madinah terasa berbeda bagi peziarah, meskipun jenis pohonnya sama dengan yang tumbuh di tempat lain.
Sampai sekarang kawasan di sekeliling kota masih dipenuhi perkebunan kurma yang dikelola keluarga maupun usaha berskala lebih besar. Sebagian di antaranya membuka pintu bagi pengunjung dan menyediakan ruang penjualan, sehingga rombongan ibadah dapat mampir sebentar di tengah rangkaian ziarah.
Kedudukan Kebun Kurma dalam Rute Ziarah Madinah
Pada banyak paket umroh, kunjungan ke kebun kurma diletakkan dalam satu rangkaian city tour Madinah bersama tempat bersejarah lainnya. Durasinya umumnya singkat, karena satu hari ziarah harus memuat beberapa titik sekaligus sementara waktu sholat berjamaah di Masjid Nabawi tetap menjadi patokan utama. Urutan dan isi rute berbeda antar penyelenggara, jadi sebaiknya dipastikan sejak awal melalui itinerary, bukan diperkirakan dari cerita orang lain.
Ada satu hal yang perlu diluruskan. Berkunjung ke kebun kurma bukan bagian dari rukun maupun rangkaian wajib ibadah umroh. Tidak ada niat khusus yang perlu diucapkan dan tidak ada amalan tertentu yang harus dikerjakan di sana. Jemaah yang rutenya tidak memuat kunjungan ini tidak kehilangan apa pun dari keabsahan ibadahnya.
Memahami hal itu justru menenangkan. Kunjungan ke kebun kurma dapat dinikmati sebagai pengenalan terhadap kehidupan Kota Madinah sekaligus kesempatan membeli buah tangan, tanpa rasa khawatir ada ibadah yang terlewat. Untuk mengetahui apakah titik ini termasuk dalam rute perjalanan, jemaah dapat menanyakannya kepada tim melalui halaman program umroh.
Ragam Kurma yang Dijumpai di Kebun
Nama jenis kurma sering membingungkan jemaah yang baru pertama kali berbelanja. Yang paling dikenal adalah Ajwa, kurma berukuran kecil dengan warna gelap dan tekstur lembut yang identik dengan Madinah. Menurut sejumlah riwayat, kurma jenis ini disebut memiliki keutamaan, dan karena itulah ia paling banyak dicari peziarah. Selain Ajwa ada Sukkari yang rasanya sangat manis dengan warna lebih terang, Safawi yang bentuknya lonjong dan lembap, serta Amber yang butirnya besar dan sering ditempatkan sebagai pilihan istimewa. Majol dikenal karena ukurannya besar dengan tekstur kenyal.
Pada musim panen, sebagian kebun juga menjual rutab, yaitu kurma segar yang belum dikeringkan. Rasanya berbeda dari kurma kering: lebih lembut dan berair. Namun rutab tidak tahan lama, sehingga lebih cocok dinikmati di tempat daripada dijadikan buah tangan.
Satu hal yang sering terlewat, dalam satu jenis yang sama mutu bisa berbeda cukup jauh bergantung pada ukuran butir, tingkat kelembapan, dan cara penyimpanan. Istilah yang beredar di pasaran bukan jaminan mutu. Jauh lebih berguna menanyakan jenisnya kepada penjual, mengamati kondisi butirnya, dan bila memungkinkan mencoba sedikit lebih dahulu sebelum memutuskan membeli dalam jumlah banyak.
Adab dan Etika Saat Berkunjung
Kebun kurma adalah milik perorangan atau badan usaha, dan orang-orang di dalamnya sedang menjalankan pekerjaan mereka. Karena itu adab dasarnya adalah menghormati tempat kerja orang lain: tidak memetik buah sendiri tanpa izin, tidak memasuki area yang tidak dibuka untuk pengunjung, meminta izin sebelum memotret pekerja, serta menjaga kebersihan selama berada di sana.
Dalam hal berbelanja, menawar boleh dilakukan dengan santun apabila penjual memang membuka ruang untuk itu, tetapi memaksa bukan sikap yang pantas, apalagi di tengah perjalanan ibadah. Menjaga ucapan dan kesabaran ketika tempat sedang padat adalah bagian dari akhlak yang ikut dibawa pulang bersama buah tangan.
Keinginan membawa bibit, tanah, atau tanaman hidup sebagai kenang-kenangan sebaiknya ditahan lebih dahulu. Lalu lintas tumbuhan antarnegara memiliki ketentuannya sendiri, dan hal seperti ini lebih baik ditanyakan kepada pembimbing ibadah atau tour leader daripada diputuskan sendiri di lokasi. Terakhir, jagalah waktu rombongan. Keterlambatan satu orang akan memperpendek waktu semua orang di titik berikutnya.
Persiapan Praktis Membeli dan Membawa Kurma Pulang
Agar berbelanja tidak menyita tenaga maupun waktu ibadah, ada beberapa kebiasaan sederhana yang membantu. Pertama, jangan menghabiskan seluruh rencana belanja di titik yang pertama dikunjungi. Kurma dijual di banyak tempat sepanjang perjalanan, sehingga membeli secara bertahap memberi kesempatan membandingkan mutu dan pilihan.
Kedua, perhatikan kemasan. Kurma yang lembap sebaiknya terbungkus rapat agar tidak membasahi barang lain di dalam koper, dan kemasan yang sudah rusak sebaiknya dilewati saja. Ketiga, ingat bahwa kurma cukup berbobot. Ketentuan bagasi setiap maskapai berbeda, jadi rencana buah tangan sebaiknya disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku pada penerbangan jemaah. Menanyakannya kepada tim travel sebelum berbelanja banyak akan menghindarkan kerepotan di bandara.
Keempat, memisahkan buah tangan untuk setiap penerima sejak masih di hotel jauh lebih ringan daripada membongkar koper setelah tiba di rumah. Dan bila penjual memberikan bukti pembayaran, simpanlah sampai perjalanan berakhir.
Kebun kurma Madinah menawarkan sesuatu yang jarang didapat dari bacaan, yaitu kesempatan menyaksikan sendiri sumber penghidupan yang menyertai sejarah kota ini sejak lama. Memahami bahwa kunjungan ini bersifat pelengkap, mengenali ragam kurma sebelum membeli, serta menjaga adab di tempat kerja orang lain akan membuat pengalamannya terasa utuh tanpa mengganggu ibadah utama. Untuk mengetahui rute ziarah, pendampingan pembimbing ibadah, dan pengaturan waktu perjalanan yang tetap mengutamakan ibadah, jemaah dapat berkonsultasi dengan tim Payung Madinah Umroh & Haji Official melalui halaman program umroh.
Ketentuan kunjungan dan ketersediaan titik ziarah di Arab Saudi dapat berubah sewaktu-waktu. Jemaah dianjurkan mengonfirmasi ketentuan terkini kepada travel atau sumber resmi seperti Kementerian Haji dan Umrah RI dan kanal layanan resmi Nusuk.
Foto thumbnail: Oleg / Unsplash.