Jam Kunjungan Raudhah Dibagi Dua Periode Harian untuk Pria dan Wanita: Perbedaan Hari Jumat dan Cara Jemaah Umroh Menyesuaikan Jadwal

Jam Kunjungan Raudhah Dibagi Dua Periode Harian untuk Pria dan Wanita: Perbedaan Hari Jumat dan Cara Jemaah Umroh Menyesuaikan Jadwal

Jam kunjungan Raudhah di Masjid Nabawi kembali ditegaskan melalui kanal resmi pemerintah Arab Saudi, dan isinya menyangkut hal yang sangat praktis bagi calon jemaah umroh Indonesia: kapan sebenarnya seorang jemaah boleh masuk. Kunjungan ke Raudhah tidak dibuka sepanjang hari. Waktunya dibagi menjadi dua periode setiap hari untuk jemaah pria, dan dua periode terpisah untuk jemaah wanita. Pembagian itu pun tidak sama antara hari biasa dan hari Jumat. Pemesanan jadwal tetap dilakukan melalui aplikasi resmi Nusuk, dan jemaah diminta memeriksa kembali rincian pemesanannya sebelum berjalan menuju Raudhah. Memahami kerangka waktu ini sejak dari rumah membuat harapan jemaah tidak tertambat pada jam yang sebenarnya bukan jatahnya.

Dua Periode Setiap Hari, Terpisah antara Jemaah Pria dan Wanita

Pada hari-hari biasa, jemaah pria memiliki dua jendela waktu. Yang pertama dimulai pukul 02.00 dini hari dan berakhir ketika masuk waktu shalat Subuh. Yang kedua dimulai pukul 11.20 dan berlangsung hingga masuk waktu shalat Isya. Jemaah wanita juga mendapat dua jendela waktu: sesudah shalat Subuh hingga pukul 11.00, lalu sesudah shalat Isya hingga pukul 02.00 dini hari.

Bila dirangkai, pola itu menunjukkan satu hal yang sering tidak disadari rombongan keluarga: jemaah pria dan jemaah wanita tidak pernah berada di dalam Raudhah pada jam yang sama. Ketika jendela waktu wanita berakhir pada pukul 11.00, dua puluh menit kemudian jendela waktu pria dibuka. Begitu pula sebaliknya pada malam hari. Suami dan istri, atau ibu dan anak lelaki yang sudah dewasa, karena itu tidak dapat merencanakan masuk bersama-sama.

Konsekuensi praktisnya sederhana namun penting disepakati sebelum berangkat dari hotel: tentukan titik temu dan perkiraan waktu berkumpul setelah masing-masing menyelesaikan kunjungan. Rombongan yang tidak menyepakati hal ini sejak awal biasanya kehilangan waktu berharga hanya untuk saling mencari di halaman masjid yang luas, atau justru membuat salah satu anggota tergesa-gesa meninggalkan Raudhah karena khawatir ditunggu.

Hari Jumat Memakai Jadwal Tersendiri

Pada hari Jumat, jendela waktu bergeser. Jemaah pria tetap dapat berkunjung mulai pukul 02.00 dini hari hingga masuk waktu Subuh, tetapi periode keduanya dibuka lebih awal, yaitu mulai pukul 09.00 hingga masuk waktu Isya. Sejalan dengan itu, jendela waktu pagi bagi jemaah wanita pada hari Jumat berakhir lebih cepat, yakni sesudah Subuh hingga pukul 09.00. Periode malam bagi jemaah wanita tidak berubah, tetap sesudah Isya hingga pukul 02.00.

Pergeseran dua jam ini kecil di atas kertas, tetapi berpengaruh besar bagi jemaah wanita yang masa tinggalnya di Madinah mencakup hari Jumat. Rencana yang semula menyasar jam sepuluh pagi menjadi tidak berlaku, sementara jadwal rombongan pada hari Jumat umumnya sudah padat oleh persiapan shalat Jumat. Karena itu, jemaah yang mengetahui bahwa salah satu harinya di Madinah jatuh pada hari Jumat sebaiknya memeriksa ulang pilihan jamnya, bukan menganggap jadwalnya sama dengan hari-hari lain.

Batas Waktu yang Mengikuti Waktu Shalat, Bukan Sekadar Jam Dinding

Satu hal yang perlu dicermati: tidak semua batas waktu itu berupa angka jam yang tetap. Angka yang tetap adalah pukul 02.00, pukul 09.00, pukul 11.00, dan pukul 11.20. Sisanya ditautkan pada waktu shalat, yaitu masuknya waktu Subuh dan masuknya waktu Isya. Karena waktu shalat bergeser sepanjang tahun, batas-batas tersebut pun bergeser mengikutinya.

Artinya, "sesudah Isya" pada satu bulan tidak jatuh pada jam dinding yang sama dengan bulan lainnya. Jemaah yang mencatat jam kunjungan dari cerita kerabat yang pernah berangkat beberapa tahun lalu berisiko memakai acuan yang sudah tidak tepat. Acuan yang benar adalah jadwal shalat Madinah pada hari kunjungan itu sendiri, dipadukan dengan jadwal yang tertera pada pemesanan di aplikasi.

Kebiasaan kecil yang membantu adalah mencatat perkiraan waktu Subuh dan Isya untuk setiap hari masa tinggal di Madinah, lalu menempatkan rencana kunjungan Raudhah di atas catatan itu. Dengan begitu jemaah tahu secara kasar berapa lama jendela waktunya terbuka, dan tidak datang pada saat yang justru sudah di luar periodenya.

Menempatkan Kunjungan Raudhah di Dalam Rencana Hari di Madinah

Dua dari empat jendela waktu itu berada di tengah malam dan dini hari. Bagi jemaah yang baru tiba dari penerbangan panjang, atau yang keesokan harinya harus menempuh perjalanan ke Makkah, jendela dini hari menuntut pertimbangan tenaga yang jujur. Kunjungan yang dipaksakan pada jam 02.00 setelah seharian berziarah sering berakhir pada kondisi tubuh yang tidak lagi mampu beribadah dengan tenang, dan itu justru mengurangi makna kesempatan yang sudah diperoleh.

Karena masa tinggal di Madinah dalam satu perjalanan umroh selalu terbatas, kunjungan Raudhah sebaiknya ditempatkan pada hari yang jadwalnya paling lapang, bukan pada hari kedatangan maupun hari perpindahan kota. Jemaah lanjut usia dan jemaah dengan keterbatasan fisik lebih baik memilih jendela waktu yang searah dengan ritme bangun-tidurnya, meski itu berarti melepas jam yang terdengar lebih lengang.

Untuk hal-hal semacam ini, pembimbing ibadah dan tour leader rombongan adalah pihak yang paling tepat diajak berbicara, dan sebaiknya diajak sejak hari pertama tiba di Madinah. Mereka mengetahui susunan acara rombongan dan dapat membantu menakar jendela waktu mana yang realistis bagi tiap jemaah.

Memesan Lewat Nusuk dan Memeriksa Ulang Sebelum Berangkat

Pengumuman resmi menegaskan dua langkah yang tidak boleh dilewati. Pertama, jemaah memesan jadwal kunjungan melalui aplikasi Nusuk. Kedua, jemaah memeriksa kembali rincian pemesanannya sebelum bergerak menuju Raudhah. Langkah kedua inilah yang paling sering dianggap formalitas, padahal di situlah kekeliruan tanggal, salah periode, atau salah pemahaman jam biasanya terungkap, dan masih bisa diperbaiki.

Pemeriksaan itu cukup mencakup tiga hal: tanggal kunjungan, periode waktu yang didapat, dan kesesuaiannya dengan jendela waktu bagi jemaah pria atau wanita. Memastikan aplikasi dapat dibuka dan daya baterai ponsel mencukupi termasuk bagian dari persiapan yang sama, karena rincian pemesanan itulah yang menjadi pegangan di lapangan.

Ringkasnya, kunjungan Raudhah kini menuntut tiga kesadaran: bahwa waktunya terbagi dua periode setiap hari dan berbeda antara jemaah pria dan wanita, bahwa hari Jumat memakai jadwal tersendiri, dan bahwa sebagian batas waktunya mengikuti waktu shalat sehingga perlu dibaca ulang setiap hari. Jemaah yang menyiapkan tiga hal itu sejak dari tanah air berangkat dengan rencana, bukan dengan harapan yang bergantung pada keberuntungan.

Ketentuan seperti ini dapat diperbarui sewaktu-waktu oleh otoritas Arab Saudi. Karena itu jemaah sebaiknya mengonfirmasi kembali jadwal yang berlaku kepada travel penyelenggara atau kanal resmi sebelum keberangkatan. Tim Payung Madinah Umroh & Haji Official terbiasa mendampingi jemaah pada urusan sekecil ini, mulai dari membantu memahami jendela waktu hingga menempatkannya di dalam susunan acara rombongan. Untuk pertanyaan mengenai pilihan paket dan rencana perjalanan, silakan menelusuri halaman umroh Payung Madinah atau berbincang langsung dengan tim kami.

Sumber: Saudi Press Agency, diakses 20 Oktober 2026.

Foto thumbnail: Haidan / Unsplash.