Jabal Tsur dan Gua Tsur di Makkah: Sejarah Hijrah Rasulullah dan Adab Berziarah bagi Jemaah Umroh

Jabal Tsur dan Gua Tsur di Makkah: Sejarah Hijrah Rasulullah dan Adab Berziarah bagi Jemaah Umroh

Jabal Tsur adalah bukit bersejarah di Makkah yang namanya hampir selalu muncul ketika kisah hijrah Rasulullah diceritakan, tetapi jarang masuk dalam rencana perjalanan jemaah umroh. Bila Jabal Nur dikenal sebagai tempat turunnya wahyu pertama, Jabal Tsur menyimpan cerita yang berbeda: tentang ketenangan hati di tengah bahaya yang benar-benar nyata. Memahami letak bukit ini dan peristiwa yang terjadi di dalam Gua Tsur membuat perjalanan ke Tanah Suci terasa lebih hidup, karena nama-nama yang selama ini hanya dibaca di buku ternyata berdiri tidak jauh dari tempat jemaah menunaikan thawaf. Tulisan ini membahas letaknya, kisah di dalamnya, pelajaran yang bisa dibawa pulang, serta pertimbangan praktis dan adab bila jemaah ingin melihatnya dari dekat.

Letak Jabal Tsur dan Medan yang Harus Didaki

Jabal Tsur berada di sisi selatan Kota Makkah, berlawanan arah dengan Madinah yang terletak di utara. Bukit ini berdiri di tengah lanskap khas Hijaz: bebatuan kering bertumpuk, lereng yang terbuka tanpa naungan pepohonan, dan jalur pendakian yang menanjak cukup tajam. Dari kejauhan, bentuknya tampak sederhana; ketika didekati, barulah terlihat bahwa permukaannya tersusun dari batu-batu besar yang tidak rata.

Di bagian atas bukit itulah Gua Tsur berada, berupa rongga batu dengan mulut yang sangat sempit. Jemaah yang pernah sampai ke sana umumnya menggambarkan ruangnya kecil, hanya cukup untuk beberapa orang, dengan celah masuk yang menuntut tubuh dimiringkan. Pendakian menuju puncaknya tergolong lebih berat dan lebih panjang dibandingkan Jabal Nur, sehingga jarang dimasukkan ke dalam agenda ziarah rombongan. Banyak jemaah akhirnya mengenal Jabal Tsur hanya dengan melihatnya dari kendaraan sambil mendengarkan penjelasan pembimbing ibadah.

Tiga Malam di Dalam Gua Tsur

Gua Tsur dikenal sebagai tempat Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi pada awal perjalanan hijrah menuju Madinah. Berdasarkan sejumlah riwayat dalam kitab-kitab sirah, keduanya berada di dalam gua itu selama beberapa malam, menunggu sampai pencarian terhadap mereka mereda sebelum melanjutkan perjalanan. Al-Qur'an menyinggung peristiwa di dalam gua ini dalam Surah At-Taubah ayat 40.

Riwayat sirah juga menyebutkan bahwa keduanya tidak sepenuhnya terputus dari Makkah. Kabar tentang keadaan kota, bekal makanan, dan susu disebut sampai ke gua melalui anggota keluarga Abu Bakar dan seorang penggembala yang jejaknya sekaligus menyamarkan jejak kaki manusia. Detail-detail kecil seperti ini memperlihatkan bahwa peristiwa hijrah bukan kepergian yang terjadi tiba-tiba, melainkan perjalanan yang dipersiapkan dengan sangat teliti.

Yang paling banyak dikenang dari peristiwa ini adalah suasana hatinya. Ketika para pencari sudah berada begitu dekat sehingga suara mereka terdengar, Rasulullah justru menenangkan sahabatnya dan mengingatkan bahwa mereka tidak sedang berdua saja. Ketenangan dalam keadaan paling terdesak itulah yang membuat kisah Gua Tsur terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Mengapa Rute Hijrah Justru Mengarah ke Selatan

Satu hal yang sering terlewat ketika kisah ini diceritakan secara singkat adalah arah perjalanannya. Madinah berada di utara Makkah, sementara Jabal Tsur terletak di selatan. Artinya, langkah pertama hijrah justru menjauh dari tujuan.

Pilihan arah itu bukan kekeliruan. Dengan bergerak ke selatan lebih dahulu, para pencari diarahkan untuk menduga tujuan yang salah, sehingga perjalanan ke utara bisa ditempuh setelah situasi lebih aman. Bagi jemaah masa kini, bagian ini memberi pelajaran yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: menyerahkan hasil kepada Allah tidak berarti meninggalkan perhitungan dan kehati-hatian. Keduanya berjalan bersama, bukan saling menggantikan.

Pelajaran yang Bisa Dibawa Pulang Jemaah Umroh

Kisah Gua Tsur meninggalkan beberapa pelajaran yang mudah dikaitkan dengan pengalaman jemaah sendiri. Pertama, keyakinan tidak selalu berarti keadaan menjadi mudah. Rasulullah tetap harus mendaki bukit berbatu dan berdiam di ruang sempit, sama seperti jemaah yang kadang harus menghadapi antrean panjang, cuaca yang menyengat, atau jadwal yang padat.

Kedua, kesetiaan seorang sahabat punya tempat yang besar dalam kisah ini. Abu Bakar Ash-Shiddiq menemani sejak awal tanpa jaminan apa pun tentang keselamatan. Dalam rombongan umroh, hal yang serupa muncul dalam bentuk sederhana: menunggu jemaah lansia yang berjalan lebih lambat, menolong yang terpisah dari kelompok, atau menahan diri ketika suasana mulai berdesakan.

Ketiga, ketenangan bisa dilatih. Jemaah yang berangkat dengan harapan agar segalanya berjalan sempurna biasanya lebih mudah terguncang ketika ada satu hal yang berubah. Sebaliknya, jemaah yang sejak awal bersiap menghadapi penyesuaian cenderung lebih khusyuk ketika keadaan tidak sesuai bayangan.

Perlukah Jemaah Mendaki Jabal Tsur?

Pertanyaan ini perlu dijawab dengan jujur. Mendaki Jabal Tsur bukan bagian dari rangkaian ibadah umroh, dan menurut sebagian ulama tidak ada tuntunan amalan khusus yang dianjurkan untuk dikerjakan di dalam gua tersebut. Nilainya terletak pada pelajaran sejarah, bukan pada keutamaan tempatnya.

Karena itu, jemaah tidak perlu merasa ibadahnya kurang lengkap bila tidak sampai ke puncaknya. Pertimbangan fisik justru lebih penting untuk didahulukan. Jalur pendakiannya menuntut tenaga besar dan waktu yang tidak sedikit, sementara tenaga jemaah lebih utama disimpan untuk thawaf, sa'i, dan sholat berjamaah di Masjidil Haram. Bagi jemaah lansia, pemilik riwayat keluhan jantung atau sendi, serta jemaah yang baru tiba dan belum pulih dari perjalanan panjang, melihat bukit ini dari bawah sambil mendengarkan penjelasan sudah cukup memadai. Bila tetap ingin mendaki, hal itu sebaiknya dibicarakan lebih dahulu dengan pembimbing ibadah dan tour leader agar tidak berbenturan dengan jadwal ibadah utama.

Adab Berziarah ke Tempat Bersejarah di Makkah

Ziarah ke tempat bersejarah sebaiknya diletakkan pada tempatnya: sarana menambah pengetahuan dan menguatkan kecintaan kepada Rasulullah, bukan tujuan ibadah tersendiri. Dari kedudukan itu lahir beberapa adab yang pantas dijaga.

Hindari perbuatan yang mengarah pada pengkultusan, seperti mengusap batu dengan keyakinan mendatangkan berkah, mengambil kerikil sebagai jimat, atau meninggalkan tulisan di dinding batu. Jaga kebersihan dan jangan tinggalkan sampah. Hormati jemaah lain yang juga ingin melihat atau beristirahat, terutama di lorong-lorong sempit. Rapikan niat sejak awal, dan utamakan keselamatan diri serta rombongan di atas keinginan mengambil gambar dari titik tertentu.

Jemaah juga sebaiknya memastikan kebenaran cerita yang didengar di lokasi. Tidak semua kisah yang beredar di sekitar tempat ziarah memiliki dasar riwayat yang kuat. Bertanya kepada pembimbing ibadah yang memahami sirah jauh lebih aman daripada menerima begitu saja penuturan yang belum jelas sumbernya.

Jabal Tsur mengingatkan bahwa perjalanan besar dalam sejarah Islam pun dimulai dari langkah yang berat, sempit, dan penuh kehati-hatian. Mengenal kisahnya sebelum berangkat membuat jemaah memandang Makkah bukan sekadar sebagai tujuan perjalanan, melainkan sebagai tempat yang menyimpan jejak kesabaran. Bagi Anda yang ingin menyusun perjalanan umroh dengan pendampingan pembimbing ibadah dan penjelasan sejarah yang tertib di setiap titik ziarah, tim Payung Madinah Umroh & Haji Official siap membantu merencanakannya bersama Anda. Rincian pilihan perjalanan dapat ditanyakan langsung melalui halaman umroh Payung Madinah.

Ketentuan perjalanan dan layanan di lokasi ziarah dapat berubah sewaktu-waktu. Jemaah disarankan mengonfirmasi informasi terbaru kepada travel atau sumber resmi sebelum keberangkatan. Informasi resmi seputar penyelenggaraan umroh dan haji Indonesia dapat dirujuk pada kanal Kementerian Haji dan Umrah RI.

Foto thumbnail: NIR HIMI / Unsplash.