Jabal Rahmah di Arafah: Sejarah, Adab Berziarah, dan Posisinya dalam Perjalanan Umroh

Jabal Rahmah di Arafah: Sejarah, Adab Berziarah, dan Posisinya dalam Perjalanan Umroh

Jabal Rahmah di Arafah hampir selalu disebut setiap kali jemaah membicarakan ziarah di sekitar Kota Makkah. Bukit berbatu ini berdiri di tengah hamparan Arafah, dataran luas yang pada musim haji menjadi pusat perhatian umat Islam sedunia. Bagi jemaah umroh, Arafah umumnya disinggahi dalam rangkaian city tour, bukan sebagai bagian dari rukun ibadah. Karena itu, memahami apa yang ada di sana, bagaimana sejarahnya, dan adab apa yang perlu dijaga akan membuat kunjungan yang biasanya singkat itu terasa jauh lebih bermakna. Tulisan ini merangkum pokok-pokok yang sebaiknya diketahui calon jemaah sebelum berdiri di bukit tersebut.

Letak Jabal Rahmah dan Dataran Arafah di Sekelilingnya

Arafah adalah dataran terbuka di sebelah timur Kota Makkah. Berbeda dengan kawasan Masjidil Haram yang padat bangunan, Arafah sepanjang tahun terlihat lengang: jalan-jalan lebar, tiang-tiang penanda, deretan pohon peneduh, dan perbukitan batu di kejauhan. Suasananya berubah total hanya pada satu hari dalam setahun, ketika jemaah haji dari seluruh dunia berkumpul di sana untuk wukuf.

Jabal Rahmah adalah bukit batu yang menonjol di tengah dataran itu. Ukurannya tidak besar jika dibandingkan dengan pegunungan di sekitar Makkah, namun posisinya di tengah hamparan yang rata membuatnya mudah dikenali dari jauh. Sebuah tugu penanda berdiri di puncaknya, dan jalur berundak disediakan bagi yang ingin naik. Bagi jemaah yang berziarah di luar musim haji, pemandangan dari atas bukit inilah yang biasanya paling diingat: dataran yang terbuka, sunyi, dan terasa jauh lebih lapang daripada bayangan banyak orang sebelum datang.

Dalam rangkaian perjalanan umroh, Arafah biasanya menjadi satu dari beberapa titik yang dilewati pada hari ziarah bersama Muzdalifah, Mina, dan tempat-tempat bersejarah lain di sekitar Makkah. Waktu yang tersedia di setiap titik tidak panjang karena harus dibagi, sehingga jemaah sebaiknya tidak datang dengan harapan bisa berlama-lama di satu tempat saja.

Jejak Sejarah yang Melekat pada Arafah

Yang membuat Arafah begitu dikenang bukanlah bentuk bukitnya, melainkan peristiwa yang terjadi di dataran ini. Berdasarkan sejumlah riwayat yang masyhur, di kawasan Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbah pada haji terakhir beliau, sebuah pesan perpisahan yang isinya kemudian dikenang sebagai pokok-pokok ajaran tentang kehormatan jiwa, harta, dan hubungan antarmanusia. Banyak pembimbing ibadah menjadikan momen ziarah di Arafah sebagai kesempatan mengulang kembali isi pesan tersebut kepada jemaah.

Ada pula kisah yang sering diceritakan dari mulut ke mulut yang menghubungkan bukit ini dengan pertemuan Nabi Adam dan Hawa, dan dari kisah itulah nama "rahmah" yang berarti kasih sayang kerap dikaitkan. Perlu diketahui bahwa penilaian ulama terhadap riwayat semacam ini tidak seragam. Karena itu, cerita tersebut lebih tepat didengarkan sebagai kekayaan tutur yang hidup di tengah masyarakat, bukan sebagai dasar untuk mengkhususkan amalan tertentu di tempat itu.

Sikap yang paling aman bagi jemaah adalah menempatkan Arafah sebagai pengingat sejarah dan pelajaran, bukan sebagai tempat yang diyakini memiliki keistimewaan di luar apa yang memang disebutkan dalam syariat. Dengan cara ini, kunjungan tetap menyentuh hati tanpa perlu menambah keyakinan yang tidak berdasar.

Mengapa Arafah Identik dengan Haji, Bukan dengan Umroh

Inilah bagian yang paling sering menimbulkan salah paham. Wukuf di Arafah adalah bagian dari rangkaian ibadah haji dan dilaksanakan pada waktu yang sudah tertentu di bulan Dzulhijjah. Rangkaian umroh tidak memuat wukuf. Ibadah umroh berpusat di Masjidil Haram dengan thawaf dan sai sebagai intinya, sehingga kunjungan ke Arafah di luar musim haji berdiri sebagai ziarah, bukan sebagai pelengkap rukun yang kurang.

Pemahaman ini penting karena menentukan sikap jemaah di lapangan. Tidak perlu merasa ibadah umrohnya belum sempurna bila rangkaian perjalanan tidak menyertakan Arafah. Sebaliknya, bagi yang berkesempatan datang, para pembimbing ibadah pada umumnya menerangkan bahwa tidak ada tuntunan khusus untuk mengenakan ihram, menetap dalam waktu tertentu, atau mengerjakan amalan tertentu di puncak bukit. Yang dianjurkan adalah apa yang memang dianjurkan di tempat mana pun: memperbanyak zikir, memohon ampunan, dan mendoakan diri serta keluarga.

Bagi calon jemaah haji, berdiri di Arafah pada hari ziarah umroh justru bisa menjadi bekal pengenalan. Melihat sendiri bentuk dataran, arah bukit, dan jarak antartitik akan sangat membantu membayangkan rangkaian haji kelak, ketika kawasan yang sama dipenuhi tenda dan jutaan orang.

Adab dan Sikap yang Perlu Dijaga Saat Berziarah

Adab pertama adalah menata niat. Kunjungan diniatkan untuk mengambil pelajaran dan melembutkan hati, bukan sekadar menambah daftar tempat yang pernah didatangi. Dari niat yang lurus, sikap di lapangan biasanya mengikuti dengan sendirinya.

Kedua, jemaah sebaiknya menjauhi praktik yang tidak memiliki dasar, seperti menulis nama di tugu atau bebatuan, mengikatkan kain, mengambil batu untuk disimpan sebagai pembawa keberuntungan, atau meyakini doa hanya terkabul bila dipanjatkan di titik tertentu. Kebiasaan semacam itu merusak kebersihan tempat, dan lebih jauh lagi menggeser arah ibadah dari yang seharusnya.

Ketiga, jagalah ketertiban dan kenyamanan bersama. Jalur naik bukit tidak lebar dan bisa dipakai banyak orang dalam waktu bersamaan, termasuk jemaah lanjut usia. Memberi jalan, tidak berhenti lama di tengah jalur, dan menahan suara adalah bentuk penghormatan yang sederhana namun terasa. Dalam hal memotret, ambillah gambar dengan tertib, hindari menghalangi jalan, dan hormati jemaah lain yang sedang berdoa agar tidak masuk ke dalam bidikan tanpa izin.

Persiapan Praktis Sebelum Menapaki Bukitnya

Arafah adalah kawasan terbuka tanpa banyak naungan, sehingga terik matahari dan angin berdebu perlu diperhitungkan. Topi atau payung lipat, kacamata, pelembap kulit, serta air minum yang cukup sebaiknya sudah disiapkan sejak dari hotel. Alas kaki yang nyaman dan tidak licin jauh lebih berguna daripada yang terlihat rapi, karena permukaan jalur berundak bisa berpasir.

Ukur juga kondisi fisik dengan jujur. Naik sampai puncak bukan kewajiban, dan tidak ada nilai ibadah yang berkurang bila jemaah memilih menunggu di bawah sambil berzikir. Jemaah lanjut usia atau yang memiliki keluhan kesehatan sebaiknya berembuk lebih dahulu dengan pembimbing dan tidak memaksakan diri hanya karena melihat yang lain mendaki.

Terakhir, tetap bersama rombongan. Kawasan terbuka justru lebih mudah membuat orang terpisah karena pandangan tidak terhalang dan arah terasa serupa dari segala sisi. Catat tanda kendaraan, sepakati titik kumpul, dan pastikan nomor pembimbing tersimpan sebelum turun dari bus.

Jabal Rahmah pada akhirnya adalah bukit batu yang biasa, tetapi dataran di sekelilingnya menyimpan salah satu pesan terpenting dalam sejarah Islam. Memahami sejarahnya, menempatkannya secara tepat dalam rangkaian ibadah, dan menjaga adab selama berkunjung akan membuat waktu singkat di sana menjadi bagian perjalanan yang terus diingat. Untuk mengetahui titik ziarah mana saja yang masuk dalam rangkaian perjalanan dan bagaimana pendampingannya di lapangan, calon jemaah dapat menanyakannya langsung kepada tim Payung Madinah Umroh & Haji Official melalui halaman program umroh. Ketentuan perjalanan dan pengaturan kunjungan di Tanah Suci dapat diperbarui dari waktu ke waktu, sehingga informasi terbaru sebaiknya dikonfirmasi kepada travel atau sumber resmi seperti Kementerian Haji dan Umrah RI sebelum keberangkatan.

Foto thumbnail: ekrem osmanoglu / Unsplash.