Doa di Multazam menjadi salah satu momen yang paling dinanti jamaah ketika berada di Masjidil Haram. Area ini hanya berupa bidang sempit pada dinding Ka'bah, namun banyak jamaah rela menunggu berjam-jam demi dapat memanjatkan permohonan di sana. Memahami letak, keutamaan, serta adabnya akan membantu Anda memanfaatkan kesempatan itu dengan tenang, tanpa terbawa berdesakan yang justru mengurangi kekhusyukan.
Mengenal Multazam dan Letaknya
Multazam adalah bagian dinding Ka'bah yang terletak di antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Bidangnya tidak lebar, hanya sekitar dua meter, sehingga daya tampungnya sangat terbatas dibanding jumlah jamaah yang ingin mendekat. Namanya sendiri berasal dari kata yang bermakna menempel atau melekatkan diri, merujuk pada praktik sebagian sahabat yang merapatkan dada, wajah, dan kedua lengan ke dinding tersebut sambil berdoa.
Karena letaknya berada di jalur tawaf yang padat, jamaah yang hendak menuju ke sana perlu memperhitungkan arus orang di sekitarnya. Memaksakan diri menerobos kerumunan bukan hanya berisiko bagi diri sendiri, tetapi juga mengganggu jamaah lain yang sedang menyelesaikan tawaf.
Keutamaan Berdoa di Multazam
Berdasarkan sejumlah riwayat yang sampai kepada kita, Multazam disebut sebagai salah satu tempat yang doanya diharapkan dikabulkan. Para ulama umumnya menganjurkan jamaah memanfaatkan kesempatan berdoa di sana bila memungkinkan, meskipun mereka juga berbeda pendapat mengenai derajat sebagian riwayat yang menjadi landasannya.
Yang perlu dipahami, keutamaan tempat tidak menggantikan kesungguhan hati. Doa yang dipanjatkan dengan penuh harap dari tempat mana pun di Masjidil Haram tetap bernilai. Karena itu, jamaah yang tidak berhasil mendekat sebaiknya tidak merasa kehilangan; keikhlasan dan kesabaran menghadapi keramaian pun bagian dari ibadah.
Doa yang Dianjurkan Dipanjatkan
Tidak ada rangkaian doa baku yang wajib dibaca di Multazam. Jamaah dipersilakan memohon apa saja yang menjadi kebutuhan dunia dan akhiratnya, dengan bahasa yang paling dikuasai, termasuk bahasa Indonesia. Banyak jamaah memilih memohon ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, keselamatan keluarga, serta kemudahan untuk kembali berkunjung.
Agar tidak kehilangan arah saat momen itu tiba, siapkan daftar permohonan sejak dari tanah air. Tuliskan dalam catatan kecil atau hafalkan pokok-pokoknya. Banyak jamaah mengaku mendadak lupa apa yang hendak dipanjatkan ketika akhirnya berhasil menyentuh dinding Ka'bah karena terlalu haru.
Waktu dan Cara agar Lebih Leluasa
Kepadatan di sekitar Multazam berubah sepanjang hari. Waktu setelah tengah malam hingga menjelang subuh umumnya lebih lengang dibanding sesudah waktu-waktu sholat wajib. Jamaah yang kondisi fisiknya terbatas sebaiknya memilih waktu yang lebih sepi dan meminta pendampingan.
Bila tetap tidak memungkinkan mendekat, berdoa sambil menghadap ke arah Multazam dari jarak yang aman tetap bisa dilakukan. Pilihan ini jauh lebih bijak daripada memaksakan diri lalu terjatuh atau terpisah dari rombongan.
Adab yang Perlu Dijaga
Jagalah agar tidak menyakiti atau mendorong jamaah lain, termasuk lansia dan perempuan. Jangan berlama-lama sampai menghalangi orang di belakang yang juga menanti giliran. Hindari pula meninggikan suara saat berdoa, sebab dapat mengganggu kekhusyukan jamaah di sekitar.
Perhatikan arahan petugas Masjidil Haram dan jangan memaksa masuk ke jalur yang sedang ditutup. Sepakati pula titik kumpul dengan rombongan sebelum berpisah, agar setelah selesai berdoa Anda mudah kembali bergabung.
Multazam mengajarkan bahwa kedekatan kepada Allah tidak diukur dari seberapa keras kita berdesakan, melainkan dari kesungguhan hati saat memohon. Dengan persiapan doa yang matang, pemilihan waktu yang tepat, dan adab yang terjaga, insya Allah momen itu menjadi kenangan yang menenangkan sepanjang hidup. Bagi Anda yang menginginkan pendampingan menyeluruh mulai dari manasik, pembimbing ibadah, hingga pengaturan waktu selama di tanah suci, tim Payung Madinah Umroh & Haji Official siap membantu. Konsultasikan rencana perjalanan Anda bersama Payung Madinah Umroh & Haji agar setiap kesempatan beribadah dapat dimanfaatkan dengan tenang.
Sumber: Kementerian Agama RI (https://kemenag.go.id) dan Nusuk, Kementerian Haji & Umrah Arab Saudi (https://www.nusuk.sa).
Foto thumbnail: Izuddin Helmi Adnan / Unsplash.