Bersedekah saat umroh adalah dorongan yang hampir selalu muncul begitu jemaah berada di Makkah dan Madinah. Suasana ibadah, rasa syukur karena akhirnya sampai, dan pemandangan orang-orang yang membutuhkan di sekitar masjid membuat tangan terasa ringan untuk memberi. Dorongan itu baik dan patut dijaga. Hanya saja, agar niat yang tulus tidak berhenti menjadi kebiasaan yang keliru, ada beberapa hal yang perlu dipahami: bagaimana adabnya, lewat jalan apa sebaiknya disalurkan, dan kehati-hatian apa yang tetap perlu dijaga di tengah keramaian.
Mengapa Dorongan Bersedekah Terasa Lebih Kuat di Tanah Suci
Berdasarkan sejumlah riwayat, sedekah termasuk amalan yang keutamaannya disebut berlipat, dan sebagian ulama menilai keutamaan beramal di Makkah dan Madinah lebih besar dibanding di tempat lain. Karena itu banyak jemaah merasa sayang melewatkan kesempatan memberi selama berada di sana.
Di sisi lain, suasana yang penuh haru juga membuat keputusan mudah diambil tanpa pertimbangan. Jemaah yang baru pertama datang kadang memberi jauh melampaui rencananya, lalu kerepotan di hari-hari berikutnya. Menyiapkan niat dan rencana sederhana sebelum berangkat membuat sedekah menjadi lebih tenang dan berkelanjutan, bukan dadakan.
Menata Niat Sebelum Menata Jumlah
Sedekah dinilai dari ketulusan, bukan dari besarnya. Memberi dalam jumlah kecil secara rutin dan tanpa diketahui orang lain umumnya dianjurkan, dan banyak ulama memandangnya lebih menjaga hati dibanding memberi sekali dalam jumlah besar yang kemudian dibicarakan. Karena itu, menahan diri untuk tidak memotret dan tidak menceritakan kegiatan memberi adalah bagian dari adabnya.
Sebelum berangkat, jemaah bisa menetapkan sendiri porsi yang disiapkan khusus untuk sedekah, terpisah dari uang kebutuhan harian dan dari uang titipan keluarga. Pemisahan sederhana ini menghindarkan dua kesulitan sekaligus: ragu saat ingin memberi, dan menyesal karena kebutuhan pokok ikut terpakai.
Satu hal yang perlu dibedakan dengan jelas adalah uang titipan. Tidak sedikit jemaah dibekali keluarga, tetangga, atau rekan kerja dengan pesan agar disedekahkan di tanah suci. Titipan seperti itu merupakan amanah, bukan bagian dari sedekah pribadi, sehingga sebaiknya dicatat terpisah lengkap dengan nama penitip dan pesannya. Menyampaikan kabar singkat setelah menyalurkannya membuat amanah itu tuntas dan menenangkan kedua pihak.
Pilihan Cara Menyalurkan Sedekah Selama Umroh
Ada beberapa jalan yang biasa ditempuh jemaah, dan masing-masing punya kelebihan:
- Langsung kepada orang yang terlihat membutuhkan. Paling cepat dan terasa personal, tetapi paling sulit dipastikan ketepatannya.
- Melalui lembaga atau kotak amal resmi di lingkungan masjid. Lebih tertib dan penyalurannya terkelola.
- Melalui lembaga tepercaya dari tanah air. Bisa diatur sebelum atau sesudah perjalanan, dengan laporan yang bisa ditelusuri.
- Memberi kepada sesama jemaah yang sedang kesulitan. Sering terlupakan, padahal kebutuhannya nyata dan terlihat langsung.
Tidak ada keharusan memilih satu saja. Sebagian jemaah membagi porsinya: sebagian kecil untuk pemberian langsung yang spontan, sebagian besar melalui jalur yang lebih terkelola. Pembagian seperti ini menjaga keduanya, yaitu kepekaan terhadap orang di depan mata dan ketepatan penyaluran dalam jumlah yang lebih besar.
Kehati-hatian yang Tetap Perlu Dijaga
Berada di tempat suci tidak berarti semua tawaran di sekitarnya dapat dipastikan benar. Beberapa hal yang perlu diwaspadai dengan tenang, tanpa menjadi curiga pada semua orang:
- Hindari mengeluarkan dompet atau uang dalam jumlah terlihat di tengah kerumunan, baik untuk keselamatan diri maupun agar tidak menarik kerumunan baru.
- Waspadai permintaan yang dilakukan secara terorganisasi dan berpindah-pindah, terutama yang melibatkan anak-anak.
- Jangan memberikan data pribadi, foto paspor, atau akses pembayaran kepada siapa pun yang mengaku mengumpulkan donasi.
- Jangan menyalurkan dana lewat perantara yang tidak jelas identitas dan rekam jejaknya, meskipun pendekatannya ramah dan memakai bahasa agama.
- Hindari memberi di jalur lalu lintas jemaah, karena berhenti di titik padat dapat menghambat pergerakan orang banyak.
Bila ragu, menunda keputusan bukan tanda kekikiran. Sedekah yang ditahan sejenak lalu disalurkan melalui jalur yang jelas tetap bernilai, dan risikonya jauh lebih kecil.
Sedekah yang Tidak Berbentuk Uang
Bentuk memberi yang paling mudah dilakukan di tanah suci justru sering bukan uang. Mendahulukan jemaah lanjut usia di pintu masuk, memberi tempat kepada orang yang kesulitan berdiri, membantu mengambil kursi roda, menunjukkan arah kepada jemaah yang tersesat, atau sekadar menahan diri untuk tidak mendorong saat antrean padat adalah kebaikan yang terasa langsung oleh penerimanya.
Membagikan air minum, mengambilkan segelas air zamzam untuk orang yang jauh dari keran, atau membereskan sampah di sekitar tempat duduk juga termasuk. Hal-hal kecil ini tidak membutuhkan biaya, tetapi menjaga suasana ibadah bagi ribuan orang lain, dan itulah salah satu sedekah yang paling tepat sasaran di tempat sepadat Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Melanjutkan Kebiasaan Setelah Pulang
Kebiasaan memberi yang tumbuh selama umroh sayang bila berhenti begitu pesawat mendarat. Banyak jemaah menyadari bahwa yang berubah sebenarnya bukan tempatnya, melainkan kepekaan hatinya, dan kepekaan itu bisa dibawa pulang.
Menyisihkan porsi tetap setiap bulan, meskipun kecil, untuk kebutuhan di lingkungan sendiri adalah lanjutan yang wajar. Masjid di dekat rumah, tetangga yang sedang kesulitan, atau pendidikan anak-anak di sekitar biasanya tidak kalah membutuhkan. Dengan begitu perjalanan ibadah tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga kebiasaan baru yang bertahan.
Satu amalan yang sering terlewat adalah mendoakan orang-orang yang pernah dibantu, juga mendoakan mereka yang membantu kita selama perjalanan. Doa tidak memerlukan biaya dan tidak terbatas jarak, dan sebagian ulama menyebutnya termasuk bentuk kebaikan yang paling panjang usianya.
Ringkasnya, bersedekah saat umroh menjadi tepat sasaran ketika niatnya ditata lebih dulu, porsinya dipisahkan sejak dari rumah, jalurnya dipilih dengan sadar, dan adabnya dijaga agar tidak mengganggu orang lain maupun ibadah sendiri. Ketentuan penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah di Indonesia berada di bawah Kementerian Haji dan Umrah RI, dan hal-hal teknis seputar perjalanan sebaiknya dikonfirmasi kepada travel masing-masing sebelum keberangkatan. Bila Anda ingin berdiskusi mengenai persiapan ibadah sebelum berangkat, termasuk pembekalan sebelum keberangkatan, tim Payung Madinah Umroh & Haji Official siap membantu melalui kanal resmi maupun kunjungan langsung ke kantor.
Foto thumbnail: Andrew Moca / Unsplash.