Hijr Ismail adalah salah satu tempat yang paling sering ditanyakan jemaah ketika pertama kali berdiri di pelataran Masjidil Haram. Bentuknya mudah dikenali: tembok rendah setengah lingkaran di salah satu sisi Ka'bah, dengan ruang terbuka di dalamnya. Banyak jemaah ingin masuk ke sana, sebagian karena mendengar keutamaannya, sebagian lagi hanya ikut arus kerumunan tanpa tahu persis apa yang sedang dituju. Padahal memahami tempat ini penting bukan hanya untuk menambah amalan, tetapi juga untuk menjaga sah atau tidaknya thawaf yang sedang dikerjakan.
Mengenal Hijr Ismail dan Letaknya
Hijr Ismail adalah area berbentuk setengah lingkaran yang dibatasi tembok rendah di sisi Ka'bah, tidak jauh dari posisi Rukun Syami dan Rukun Iraqi. Sebagian orang menyebutnya Hathim. Ruang di dalamnya terbuka ke langit dan lantainya dilapisi marmer, sehingga terlihat jelas berbeda dari pelataran thawaf di sekelilingnya.
Yang membuat tempat ini istimewa bukan bentuknya, melainkan kedudukannya. Menurut pendapat yang dipegang mayoritas ulama, sebagian dari area itu termasuk bagian Ka'bah. Dasarnya adalah sejumlah riwayat yang menyebutkan bahwa bangunan Ka'bah pernah didirikan ulang dengan ukuran yang tidak sepenuhnya mengikuti fondasi awal, sehingga sebagian ruang yang semula termasuk di dalamnya kini berada di luar dinding dan ditandai oleh tembok setengah lingkaran tersebut.
Konsekuensi dari kedudukan itulah yang perlu dipahami setiap jemaah sebelum melangkah, karena menyangkut dua hal sekaligus: keutamaan yang bisa diraih, dan kekeliruan yang bisa membatalkan putaran thawaf.
Jemaah yang baru pertama berangkat kerap tertukar antara beberapa tempat yang sama-sama ramai di sekitar Ka'bah. Hijr Ismail adalah ruang terbuka di balik tembok setengah lingkaran, berbeda dari Multazam yang berada di antara pintu Ka'bah dan Hajar Aswad, dan berbeda pula dari Maqam Ibrahim yang berupa bangunan kecil berkubah di sisi lain pelataran. Ketiganya punya kedudukan dan adabnya masing-masing. Mengenali perbedaan ini sejak awal membuat jemaah tidak ikut berdesakan di tempat yang sebenarnya bukan tujuannya.
Mengapa Thawaf Harus di Luar Tembok Hijr Ismail
Inilah bagian yang paling perlu diingat. Karena sebagian Hijr Ismail terhitung bagian dari Ka'bah, thawaf wajib mengelilingi area itu dari luar tembok setengah lingkarannya. Jemaah yang memotong jalan dengan melintas di dalam Hijr, lalu keluar lagi ke pelataran, berarti tidak mengelilingi Ka'bah secara utuh. Menurut pendapat yang dipegang mayoritas ulama, putaran yang ditempuh dengan cara itu tidak terhitung dan perlu diulang.
Kekeliruan ini jarang terjadi karena kesengajaan. Biasanya penyebabnya sederhana: jemaah terdorong arus, atau mengira jalur di dekat tembok adalah jalur pintas yang lebih lapang. Karena itu, pembimbing biasanya mengingatkan agar jemaah mengambil lintasan yang sedikit lebih jauh dari Ka'bah, terutama pada putaran-putaran awal ketika barisan masih rapat.
Bila jemaah merasa ragu apakah satu putarannya sempat memotong atau tidak, langkah paling aman adalah mengulang putaran yang diragukan itu, bukan meneruskan dengan perasaan tidak tenang. Mengulang satu putaran jauh lebih ringan daripada menyelesaikan seluruh rangkaian dengan keraguan yang terbawa sampai pulang.
Keutamaan Sholat dan Berdoa di Dalam Hijr Ismail
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa seseorang yang sholat di dalam Hijr Ismail seperti sholat di dalam Ka'bah. Riwayat inilah yang membuat banyak jemaah berusaha masuk ke sana untuk menunaikan sholat sunnah dua rakaat dan memanjatkan doa. Sebagian ulama menjelaskan bahwa keutamaan itu berkaitan dengan kedudukan sebagian area tersebut sebagai bagian dari Ka'bah.
Perlu ditegaskan bahwa masuk ke Hijr Ismail bukan rukun dan bukan kewajiban dalam umroh. Ia termasuk amalan yang dianjurkan bila keadaan memungkinkan. Jemaah yang tidak sempat masuk karena area sedang ditutup atau terlalu padat tidak kehilangan apa pun dari keabsahan ibadahnya. Memaksakan diri masuk dalam kondisi berdesakan justru bertentangan dengan tujuan ibadah itu sendiri.
Tidak ada bacaan khusus yang ditetapkan untuk dibaca di dalam Hijr. Jemaah dapat menunaikan sholat sunnah bila memungkinkan, lalu berdoa dengan bahasa yang paling dikuasainya. Doa yang keluar dari hati dalam bahasa sendiri lebih baik daripada lafal panjang yang dibaca tanpa dipahami, apalagi dalam keadaan tergesa.
Adab dan Keselamatan Saat Area Hijr Ismail Padat
Hijr Ismail adalah ruang yang sempit dengan peminat yang sangat banyak. Pada jam-jam ramai, petugas kerap mengatur arah masuk dan keluar, membatasi jumlah orang di dalam, atau menutup aksesnya sama sekali untuk mencegah penumpukan. Pengaturan ini dapat berubah sewaktu-waktu menurut kondisi di lapangan, dan jemaah wajib mengikutinya.
Beberapa adab yang sebaiknya dijaga:
- Masuk dan keluar mengikuti arah yang ditunjukkan petugas, tidak melawan arus.
- Menyingkat sholat dan doa bila banyak jemaah lain menunggu giliran di belakang.
- Tidak mendorong, tidak menarik pakaian orang lain, dan tidak menjadikan anak kecil sebagai pembuka jalan.
- Tidak berhenti lama untuk memotret atau merekam di ruang yang sedang padat.
- Mengalah bila ada jemaah lanjut usia atau yang terlihat kepayahan.
Jemaah yang bepergian bersama rombongan sebaiknya menyepakati titik temu di luar area sebelum masuk, karena orang sangat mudah terpisah di tempat sepadat itu. Menyimpan identitas rombongan dan nomor pendamping di tempat yang mudah dijangkau juga membantu bila terpisah.
Menyiapkan Diri Sebelum Melangkah ke Hijr Ismail
Persiapan yang paling berguna justru sederhana. Pertama, kenali bentuk dan posisi Hijr Ismail sejak sebelum berangkat, sehingga di lapangan jemaah tidak perlu berhenti kebingungan di tengah arus thawaf. Kedua, selesaikan dulu rangkaian thawaf dengan tenang, baru pertimbangkan masuk ke Hijr bila keadaan lapang. Mencoba keduanya sekaligus adalah penyebab paling umum terjadinya putaran yang terpotong.
Ketiga, pilih waktu yang lebih longgar bila memungkinkan. Kepadatan di sekitar Ka'bah berubah sepanjang hari, dan pembimbing yang mendampingi di lokasi biasanya lebih tahu kapan arusnya mengendur. Keempat, jaga tenaga. Banyak jemaah kehabisan stamina bukan karena jarak, melainkan karena memaksakan diri menembus kerumunan berkali-kali dalam waktu singkat.
Terakhir, tanyakan hal yang masih mengganjal kepada pembimbing ibadah sejak sesi pembekalan, bukan ketika sudah berdiri di pelataran. Pertanyaan tentang batas lintasan thawaf, apa yang harus dilakukan bila ragu, dan bagaimana bila tidak kebagian masuk, jauh lebih mudah dijawab dengan tenang sebelum keberangkatan.
Hijr Ismail pada akhirnya mengajarkan satu hal yang berlaku untuk seluruh rangkaian ibadah: memahami lebih dulu, baru melangkah. Jemaah yang mengerti kedudukan tempat ini akan terhindar dari kekeliruan yang merepotkan, sekaligus lebih siap memanfaatkan kesempatan bila jalannya terbuka. Ketentuan dan pengaturan di area Masjidil Haram dapat diperbarui sewaktu-waktu, sehingga jemaah dianjurkan mengonfirmasi informasi terbaru kepada pembimbing atau sumber resmi menjelang keberangkatan. Untuk pendampingan ibadah sejak manasik hingga di Tanah Suci, jemaah dapat berkonsultasi dengan tim Payung Madinah Umroh & Haji Official melalui halaman umroh Payung Madinah.
Sumber rujukan resmi: Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia dan Nusuk.
Foto thumbnail: ekrem osmanoglu / Unsplash.